Selasa, 29 Maret 2011

Reflection on Christmas


Hari ini kita bersama-sama merayakan Natal. Natal yang begitu sakral karena Natal adalah Anugerah Allah yang diberikan kepada manusia hanya melalui Yesus Kristus.

1. Natal adalah Anugerah Allah
Banyak orang salah merayakan Natal dengan “bartering system”, kalo Tuhan kasih saya profit baru saya mau percaya atau kalau saya melakukan sesuatu buat Tuhan maka Tuhan harus balas sesuai dengan apa yang saya inginkan. Seringkali konsep kita adalah berharap memperoleh profit dari Allah “by our works” yaitu dari what i do, what i experience dan what i know. Namun kita lupa bahwa Allah memberikan Natal kepada setiap kita, semua karena inisiatif Allah di dalam anugerah-Nya (by His Grace). Allah adalah Sang Pencipta dan manusia adalah ciptaan Allah. Namun, manusia jatuh ke dalam dosa dan manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya ... Maka manusia membutuhkan Yesus Kristus sebagai satu-satunya juruselamat dunia yang diutus oleh Allah ke dalam dunia untuk menebis dosa manusia dan memberikan pengharapan hidup kekal di dalam rencana-Nya.

2. Anugerah adalah Pemberian Allah (God’s given).
Self-salvation tidak bakal menyelesaikan masalah karena manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Salvation sejati datangnya hanya berasal dari Allah kepada manusia. Oleh karena itu, Yesus Kristus adalah Anugerah Terbesar Allah kepada manusia untuk datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan saudara dan saya. Oleh karena itu, siapapun anda, anda dapat mengenal siapakah Yesus Kristus secara pribadi di dalam hidupmu dan anda dapat melihat apa yang telah Allah kerjakan di dalam Kristus untuk membawa saudara dan saya kembali kepada Allah Sang Pencipta.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Xiamen, China

Kamis, 25 Februari 2010

Who is Jesus Christ?

Yesus Kristus, Sebuah nama kontroversial yang tiada henti menarik perhatian dunia dari 2000 tahun yang lalu hingga abad 21. Banyak tokoh pemikir sampai kawula muda memiliki komentarnya masing-masing mengenai siapakah Yesus Kristus. Sayangnya, banyak komentar-komentar mereka gagal menemukan identitas yang akurat mengenai pribadi Yesus Kristus karena mereka gagal melihat Alkitab sebagai Kitab Suci yang absolut dan benar. Jika kita hendak menemukan kebenaran tentang siapakah Yesus Kristus, satu-satunya jalan adalah kita harus membaca Alkitab, wahyu Allah bagi kita. Apa yang Alkitab katakan mengenai Diri-Nya?

1. Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia
Selama Yesus Kristus hidup dalam dunia, tidak sedikit orang mempertanyakan keberadaan diri-Nya. Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:33). Yesus memberikan klaim bahwa kualitas Bapa dan diri-Nya adalah satu, yaitu Allah. Pengertian satu kualitas ini dapat kita pahami melalui perkataan Yesus Kristus : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yohanes 8:58). Yesus bukanlah manusia yang bergumul menuju kepada Allah; tetapi sebaliknya Ia adalah Allah yang sudah datang kepada manusia (Yohanes 1:1; 1:14). Jika Yesus Kristus bukan Allah yang menjelma menjadi manusia, tidak mungkin ada pendamaian untuk segala dosa manusia, tetapi ada tertulis: “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” (1 Yohanes 2:2).

2. Yesus Kristus adalah Kudus dan Tidak Berdosa.
Sebagaimana Allah itu kudus (Yesaya 6:3) dan tidak dapat dicobai oleh yang jahat (Yakobus 1:13), Yesus memiliki kepenuhan keallahan (Kolose 2:9), tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15), tiada musuh yang dapat menemukan dosa dalam hidup-Nya (Yohanes 8:46) dan Ia mengajak setiap manusia untuk hidup kudus sebagaimana Allah adalah kudus (1 Petrus 1:16). Pendamaian Allah untuk dosa manusia tidak bisa diwakili oleh manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Hanya Yesus Kristus adalah yang kekal, yang satu-satunya, yang adalah Allah, menjelma menjadi manusia; Dia sekaligus Allah dan manusia, Pengantara satu-satunya antara Allah dan manusia (1 Timotius 2:5).

3. Yesus Kristus adalah Juruselamat Dunia
Dalam Penciptaan, manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). Manusia jatuh ke dalam dosa karena adanya keinginan manusia untuk mau menjadi seperti Allah serta menuruti hasutan Iblis (Kejadian 3). Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Di dalam kekudusan Allah dan keadilan Allah, ditegaskan bahwa upah dosa adalah maut (Yehezkiel 18:4). Siapakah pribadi yang dapat menyelamatkan manusia? Hanya Yesus Kristus sebagai satu-satunya pribadi yang dapat mengampuni dosa manusia dan memperbaharui hidup kita (Kisah Para Rasul 4:12) di dalam kasih-Nya (Yohanes 3:16). Oleh karena kasih-Nya, Ia rela mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia. Sungguh, Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia (Titus 2:13). Mungkin saudara bertanya, apakah hanya Yesus yang dapat menyelamatkan manusia? Yesus sendiri menjawabnya di dalam Alkitab : “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. (Yohanes 4:16). Mungkin saudara membaca tulisan ini dan bertanya, bagaimanakah aku dapat datang kepada Yesus? Semua itu haruslah dimulai dari pertobatan saudara kepada-Nya. Pertobatan bukanlah meminta maaf kepada Allah saja tetapi menyadari keberdosaan saudara, mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah, mau berbalik kepada Allah dan hidup di dalam kebenaran-Nya. Tanpa pertobatan yang rela membongkar diri, tidak ada pengampunan dosa. Darah Yesus Kristus membasuh orang percaya dan mengampuni orang berdosa dan membawa mereka kembali kepada Allah yang mengasihi dunia ini. (Yohanes3:16)

4. Yesus Kristus adalah Hakim yang adil.
Setelah Yesus mati di atas kayu salib, Ia bangkit dari kematian dan naik ke Surga. Ia berjanji akan datang kembali untuk menghakimi dunia dan menggenapkan keselamatan umat-Nya. Baik manusia dan malaikat, yang hidup dan yang mati, akan tampil di hadapan-Nya untuk dihakimi menurut catatan yang dimiliki-Nya tentang mereka (Matius 24:30,31:25:31,32). Kedatangan-Nya itu akan bersamaan dengan penghakiman yang mengerikan atas orang-orang jahat, tetapi juga bersamaan dengan berkat dan kemuliaan kekal bagi orang percaya (Matius 25:33-46). Kendatipun Ia akan menghakimi orang-orang jahat dengan hukuman kekal, Ia juga akan membenarkan umat milik-Nya dan membawa mereka kepada kesempurnaan sukacita dalam kerajaan-Nya yang kekal. Allah itu adil, demikian Yesus Kristus. Ia tidak dapat disuap oleh siapapun. Inilah kesempurnaan kemenangan Kristus. Sudahkah kau siap, kawan?

Siapakah Kristus bagimu? Apa hubungannya dengan dirimu? Jikalau Dia mengatakan : “Akulah Jalan, dan Kebenaran dan Hidup”, sebuah perkataan yang tidak boleh dan tidak akan pernah dapat dikatakan oleh siapapun juga, mengapa Anda tidak mencoba mengenal-Nya dan menerima kebahagiaan sejati yang berasal dari pada-Nya?

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8).

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Beijing, China

Sumber: Traktat GRII Taiwan

Selasa, 16 Februari 2010

The Pluralist

Tgl 30 Desember 2009, Gus Dur menghembuskan nafas terakhir. Banyak orang merasa telah kehilangan teladan penting seorang negarawan, intelektual, agamawan dalam sejarah reformasi bangsa Indonesia, Tapi rupanya tidak sedikit sebagian orang yang menyumpahinya untuk masuk ke neraka akibat pemikiran “liberal” yang mengusik sebagian kaum muslim ekstrimist sehingga kehadiran musuh-musuh politiknya maupun sebagian muslim extremist menjadi gangguan yang tidak dapat dihindari oleh Gus Dur.. Well, memang tidak mudah menjadi seorang Gus Dur. Menurut Dr. Johan Effendi, salah seorang teman baik Gus Dur mengatakan bahwa Gus Dur adalah seorang visioner yang telah melihat terlalu jauh ke depan untuk memperjuangkan visi yang harus ia kerjakan untuk bangsa Indonesia dan seluruh dunia, sehingga banyak orang ketinggalan jauh untuk mengerti visi dan perjuangannya. Saya langsung teringat apa yang pernah diserukan oleh pendeta senior saya, Dr. Stephen Tong yang mengutip Dr. Sun Yat Sen: Ada tiga macam manusia di dalam dunia ini, Pertama, Tipe orang yang mengetahui terlebih dahulu apa yang akan terjadi dan biasanya orang demikian bakal dianggap seperti orang gila. Kedua, Tipe orang yang memiliki kesadaran tetapi sayangnya terlambat. Menurut Sun Yat Sen, at least, mereka masih memiliki kesadaran sehingga mereka dapat memiliki kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahannya. Ketiga, Tipe orang yang sudah tidak punya kesadaran alias tidak tahu apa-apa (tertidur). Jika perkataan Dr. Johan Effendi benar soal Gus Dur sebagai seorang visioner, maka Gus Dur tidak mungkin hidup “tenang” dalam hidupnya karena banyak orang belum dapat mengerti apa yang dipikirkan oleh Gus Dur alias mereka terlalu lamban untuk dapat mengerti visi beliau.

Meski demikian, tiada hentinya, Gus Dur tetap berjuang meneriakkan konsep kesetaraan manusia, demokrasi dan pembelaan hak-hak asasi manusia dalam pergumulan kancah politik bangsa Indonesia. Ia membela hak-hak asasi kaum minoritas dalam beberapa kasus seperti diskriminasi terhadap kaum Tionghoa, pembakaran tempat ibadah/gereja, kebebasan beragama minoritas maupun tuduhan kristenisasi gereja terhadap komunitas muslim (khususnya). Gus Dur memperjuangkan suara minoritas dan Gus Dur malah dianggap kyai murtad nan kafir. Meskipun Gus Dur adalah Muslim, tetapi baginya kemajemukan adalah pemberian Ilahi dari Sang Pencipta. Ia menerima kemajemukan bangsa Indonesia di dalam etika dignitas (ethic of dignity), bukan etika kebutuhan (ethic of interest). Siapapun mereka, mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia, oleh karena itu kita harus menikmati perbedaan tersebut dengan kembali kepada dasar negara bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Prof. Dawam Rahadjo memberikan penjelasan bahwa dalam UUD 1945, Hak Asasi Manusia (termasuk hak beragama dan pindah agama) adalah hak sipil warga negara. Pemikiran Gus Dur hanya dapat dipahami di dalam pengertian process yang progresif. Tidak sedikit, organisasi maupun lembaga agama, kebudayaan dan hak asasi manusia memberikan penghargaan kepada beliau atas konsep perjuangan pluralisme yang Gus Dur terus kerjakan sampai akhir hayatnya. Toleransi adalah kuncinya.

Meski Gus Dur adalah seorang pluralis, ia berani memberikan kritikan kepada individu, partai, pemerintah yang telah melangkah jauh dari batasnya. Misalnya, Ketika Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan bahwa Holocaust is a myth. Gus Dur terang-terangan menentang statement diatas karena Ahmadinejad telah berbohong dang mengingkari apa yang pernah terjadi di dalam sejarah dunia. Gus Dur memberikan komentar soal hubungan diplomatik Indonesia-Israel, Kalo China, negara komunis yang atheis dapat menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia, kenapa Israel tidak boleh?

Dalam National Prayer Conference 2003, Gus Dur mengajak kaum minoritas (kristen) untuk tidak menganggap kaum extremist sebagai musuh, mereka adalah orang yang harus dididik kembali karena mereka berani berbuat kekerasan karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Satu kata buat Gus Dur! Luar biasa! Inilah tokoh pluralis yang menjalankan definisi pluralis dalam hidup bernegara yaitu menghormati rasa hormat dan toleransi satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi, memperjuangkan hak asasi manusia (kebebasan beragama).

Mengutip Dr. Stephen Tong, kebebasan umat beragama bukanlah diberikan oleh pemerintah, melainkan Anugerah Tuhan untuk semua umat manusia. Dalam buku “Iman, Penderitaan dan Hak Asasi Manusia”, Dr. Stephen Tong mengatakan bahwa Tuhan menghormati hak asasi manusia, bahkan Ia terkadang menghargai hak asasi manusia untuk melawan Tuhan. Manusia diberikan hak kebebasan oleh Tuhan termasuk kemungkinan untuk melawan Tuhan. Itu adalah hak yang diberikan oleh Tuhan … disini kita dapat melihat bahwa Tuhan bukan diktator, dan Ia tidak menindas semua yang melawan-Nya. Tetapi waktu kita memakai hak asasi manusia untuk melawan Tuhan, maka itu berarti kita sedang membunuh hak asasi kita sendiri, karena hak asasi kita hanya dapat terjamin di dalam tangan Tuhan saja.

Selamat berjuang
Daniel Santoso
Beijing, China

Senin, 27 Juli 2009

Understand The Times 3

BACK TO THE ONE AND ONLY TRUTH.

Sebagai seorang kristen, bagaimana kita meresponi fenomenal gerakan emerging church? Melalui refleksi ini, saya berusaha memberikan konklusi bahwa:

1. Emerging Church adalah false church. Bukan gereja harus beradaptasi dengan dunia tetapi justru dunia harus beradaptasi dengan gereja. Jika demikian, pertanyaan besar adalah siapa menginjili siapa? Melalui hal ini, emerging church telah melakukan sebuah aksi penolakan terhadap orthodoxy of faith untuk back to Bible tetapi mereka justru welcoming worldly faith. Tindakan mereka jelas telah bertentangan dengan Firman Tuhan (Roma 12:2).

2. Emerging Church justru lebih banyak involved mengerjakan banyak hal untuk jemaat, memberitakan Injil dengan melegalkan “secularly approach” demi penjangkauan lebih banyak jiwa kepada Kristus tetapi tidak mau belajar Firman secara teologis karena mereka lebih mengutamakan “selera” mereka daripada “selera” Tuhan yang diajarkan melalui Alkitab. Sebagai contoh, ada beberapa emerging church melegalkan aborsi, menentang capital punisment dan memberikan support kepada kawula muda untuk safe sex, yaitu pakai condom. Menurut saya, tindakan mereka telah keterlaluan melanggar perintah Allah dan mengalami keterbalikan logika yang membahayakan jemaat Tuhan dan dunia. Inilah self defeating factor yang melanda gereja-gereja abad 21.

3. Emerging Church tidak memberikan “Christian Attitude” sebagai anak Tuhan karena teladan rohani yang sejati telah diinterpretasi bukan demi kemuliaan nama Tuhan, tetapi demi menjangkau jiwa-jiwa tanpa memperhitungkan apakah Tuhan berkenan atau tidak atas tindakan mereka. Banyak orang kelihatan kristen tetapi akhirnya mereka hidup bukan sebagai orang kristen tetapi sekuler. Slogan “Just give me Jesus but don’t change my way” menjadi respon jiwa-jiwa yang dijangkau oleh emerging church. Tidak heran, jika ada gereja di California yang menyediakan beragam kebaktian dengan fasilitas yang berbeda-beda seturut ragamnya selera manusia mengenai worship. Ada country, hip hop, blues, jazz, negro spiritual,classic, pop, dll. Bagaimana saudara melihat gereja-gereja seperti ini? Diam dan membiarkan mereka terbius di dalam kebodohan spiritual dan kebobrokan etika kaum religius? Saya jadi teringat, Alfred Hitchcock. Seorang bapa novel physcho dari England yang terkenal di Amerika Serikat. Dahulu dia hanyalah seorang katolik jesuit yang bekerja sebagai tukang bikin ilustrasi dan karikatur koran. Suatu hari dia baca sebuah buku yang berjudul “the sorrows of satan” maka dia bikin novel physcho, tanpa meninggalkan iman catholic jesuit-nya. Pertanyaannya adalah apakah hitchcock memuliakan Tuhan? Not at all. Ia memuliakan dirinya dan setan serta api neraka dibalik kekristenannya. Jika kita tidak waspada, kita mengatakan diri kristen tetapi kehidupan kultural kita mendominasi hidup kita lebih daripada selera Tuhan, jangan-jangan kita lebih memuliakan diri dan kultur kita sendiri, bukan memuliakan Tuhan.

Gereja Reformed Injili Indonesia percaya kepada satu-satunya kebenaran adalah kembali kepada Allah dan Kebenaran-Nya dalam Alkitab, THE ONE AND ONLY TRUTH OF EVERYTHING. Justru segala sesuatu harus kembali kepada Firman Tuhan dalam Alkitab sebagai satu-satunya dasar, selera dan motivasi serta komitmen bagi gereja dan jemaat Tuhan menikmati perdamaian dan kesatuan sejati di dalam Tuhan. Oleh karena itu, doktrin menjadi penting dalam gereja dan jemaat Tuhan. Belajar diproses sungguh-sungguh untuk memuliakan Tuhan di zaman tempat kita berdiri hari ini. Saya sangat tersentuh saat membaca biografi dari Leonard Berstein, salah seorang konduktor terbaik abad 21 dari New York Philaharmonic Orchestra. Saat dia kecil, keluarga tidak mampu belikan piano tetapi dia mempelajari piano bukan di atas instrumen piano tetapi belajar piano dalam “soul”. Ia bertekad mau jadi musician yang terbaik, meskipun orang tua tidak setuju dengan tekadnya. Saat dia sudah tua dan menjadi legenda konduktor dalam sejarah musik klasik di Amerika Serikat, sebuah pertanyaan masuk “ bagaimana kita dapat jadi konduktor yang sejati?”.Dengan mata yang tajam, kerutan dahi dan pipi yang reflek bergerak tegang, Ia menjawab dengan serius “he must be a good musician … he must know every note in a piece of music … if he didn’t …he should not conduct it”. Jawaban Berstein membuat saya merefleksikan diri saya sendiri. Mau jadi konduktor sejati harus jadi musikus yang benar dulu! Kalau mau jadi kristen yang benar, harus kenal Allah dan Kebenaran yang benar dulu … every note!!, seperti apa yang Berstein tekankan. Doaku, kita bersama gereja Tuhan dan jemaat Tuhan dapat belajar mengenal Allah dan kebenaran-Nya dengan benar … every note! , Mari kita belajar memuliakan Tuhan menurut apa yang diperkenan oleh Tuhan, bukan selera manusia. Solideo Gloria.

Dalam Kristus
Daniel Santoso
Beijing, China

Understand The Times 2

THE DANGEROUS OF EMERGING MOVEMENT

Bagaimana Postmodernisme telah mempengaruhi gereja di abad 21? Salah satunya yaitu EMERGING CHURCH.

Emerging Church adalah Gerakan kristen abad 20-21 yang mengajak gereja dan jemaat di abad ini menghidupi iman mereka di dalam masyarakat postmodern. Gerakan ini muncul akibat ketidakpuasan mereka terhadap organized church dan institutional chuch yang dianggapnya terlalu konservatif sehingga mereka melakukan dekonstruksi terhadap konsep ibadah kristen, konsep penginjilan dan natur komunitas kristen yang modern..

1. Gereja dipanggil untuk menjalankan “Kovenan” Allah-Manusia yang didasarkan atas kedaulatan Allah, Otoritas Allah dan kehendak Allah sebagai the absolute point of Truth. Disini Allah tidak membutuhkan persetujuan dari dua pihak karena adanya perbedaan kualitatif antara Allah dengan manusia. Dalam hal ini Kovenan harus dibedakan dengan Kontrak. Bagaimana dengan emerging church? Emerging Church tidak menjalankan Kovenan secara directly, justru mereka menekankan komunikasi manusia dengan Allah baik melalui conversation, opinion, discussion dengan culture of dialoque yaitu come one, tell us your own stories! Pengaruh freedom of speech/expression menghantar mereka untuk menikmati sebuah standar yang relatif dalam menikmati Tuhan. Sebenarnya, apa salahnya sih? Toh mereka bukannya merusak hubungan manusia dengan Allah? Toh mereka kelihatannya sangat kristen dengan doa-doa mereka, penginjilan mereka, ribuan jemaat dalam gereja, ribuan orang maju saat altar call menangisi dosa. Apanya yang salah? Sekali lagi, gereja dipanggil untuk menjalankan Kovenan Allah. Gereja bukan didesign oleh Allah untuk melakukan hal-hal yang dikerjakan oleh emerging church. Justru, gereja didesign untuk melakukan kehendak Tuhan, sesuai kedaulatan Allah, dalam Kovenan-Nya.


2. Emerging Church membawa masuk konsep “Postmodern Diversity” ke dalam gereja. Alasan mereka adalah dunia berubah secara radikal maka gereja harus berubah secara radikal juga. Itulah keep reforming, katanya. Bagaimana saudara membaca pemikiran ini? Emerging Church mengajak gereja harus berubah di saat dunia telah berubah dengan radikal, ini bukan ajaran Alkitab! Alkitab justru mengajarkan bagaimana gereja harus tampil beda, berbeda dengan dunia. Justru, Gereja adalah representative Allah dalam dunia ini, bukan budak dari dunia. Mereka banyak membicarakan mengenai bagaimana menjangkau jiwa sebanyak-banyaknya untuk Kristus tetapi mereka lupa bahwa the absolute truth justru menekankan iman adalah dasar dari perbuatan dan pengalaman (Ibrani 11:1, Efesus 2:8, Matius 21:21) maka pengajaran itu penting dan harus diutamakan oleh gereja. Disini Postmodernisme menawarkan “new perspectives” kepada emerging church untuk mempengaruhi gereja dan jemaat Tuhan agar mereka dapat menjadi gereja yang “down to earth” dan modern mengikuti perkembangan zaman. Pertanyaannya sekali lagi, gereja dipengaruhi oleh dunia atau dunia justru seharusnya dipengaruhi oleh gereja? Iman kristen yang sejati justru kembali kepada directly relating to God’s Word bahwa faith comes by hearing maka bagaimana setiap orang kristen membaca zamannya dengan SEE, FEEL, ACT. Dalam khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong, Ia mengambarkan saat Rasul Paulus masuk ke Efesus, ia melihat berhala-hala Efesus, ia menaruh belas kasihan kepada mereka yang belum dengar Injil dan ia beraksi dengan berkhotbah di depan mereka yang belum percaya Injil. Maksud saya mengutip hal ini, Dunia memerlukan Injil, bukan Injil perlu dunia. Inilah keterbalikan logika yang selalu dianggap boleh terbalik, boleh tidak terbalik. Itu bukan ajaran Alkitab! Justru kita harus belajar teologi baik-baik agar kita mengikut Tuhan dengan benar, bukan terbalik.

3. Emerging Church memberikan pelayanan yang terbaik bagi jemaat Tuhan. Pelayanan yang “seeker friendly” dengan memberikan pelayanan kepada jemaat sesuai dengan trend jaman, ini jelas market oriented. Kegiatan gereja tersebut lebih banyak menekankan ibadah yang penuh gairah mengaktifkan panca indera manusia untuk merasakan, menikmati, menyentuh hati daripada mendengar Firman Tuhan yang benar. Demi kenyamanan jemaat, gereja tersebut rela melakukan gaya marketing sekular hanya untuk menjangkau jiwa lebih banyak. Apakah kita punya hak untuk melakukan hal seperti itu? Sebagai seorang hamba Tuhan, saya percaya bahwa gereja harus memberitakan kebenaran dengan jujur yaitu memuliakan nama Tuhan dan menikmati Tuhan. Itulah semangat God centered. Emerging Church jelas bertolak belakang, mereka lebih menekankan “congregation-oriented” dan “market-oriented” yang dapat disimpulkan sebagai “man-centered”. Inilah semangat yang dikerjakan oleh Rick Warren, penulis best seller “The Purpose Driven Life” dari Saddleback Church. Pertama, Ia mengemas berita kekristenan sangat sekular sampai hampir tidak bisa dibedakan ini sebenarnya buku teologia atau sekadar buku pengembangan diri sehingga “cover” menjadi penting daripada “content”. Problemanya adalah kita sedang beli “cover” atau “content”? bukankah seringkali kita terjebak di dalam problema ini? Jika saudara melihat fenomena industri fake brands di China bener-benar luar biasa. Louis Vuitton dan Gucci sempat kuatir terhadap omset penjualan produk mereka dan melaporkan kepada kepolisian untuk melakukan sweeping terhadap pengedar fake brands. Herannya, industri mereka tidak pernah mati, malah berkembang sampai seantero jagat. Kenapa penjualan mereka begitu “hidup”? Cover mereka bagus, meskipun content poor quality. Kedua, Ia menggunakan bahasa seduktif yang sangat “down to earth” tetapi tidak akurat sesuai aslinya.Sebagai contoh, Rick Warren suka mengutip “The Message” dari Eugene Peterson. Warren mengutip Yohanes 3:17 dari Peterson: “God didn't go to all the trouble of sending his Son merely to point an accusing finger, telling the world how bad it was. He came to help, to put the world right again.” Jika kita melihat dari bahasa Yunani, kutipan bahasa Inggris yang paling akurat adalah NASB. "For God did not send the Son into the world to judge the world, but that the world might be saved through Him. “Saved” berbeda dengan “Help”. Kenapa Warren memilih terjemahan Eugene Peterson? Terjemahan Peterson lebih lunak, universal bagi kristen maupun non-kristen padahal terjadi “lack of meaning” dalam pengertian “saved-menyelamatkan” dengan “help-membantu, menolong”. Kebenaran Alkitab adalah menyelamatkan, bukan membantu atau menolong.

Kiranya Tuhan memberkati kita, berbalik untuk kembali kepada satu-satunya standar sejati yaitu di dalam Kristus.

by His grace
Daniel Santoso
Guangzhou, China

Understand The Times 1

THE NEED OF THE CHURCH DISCIPLINE

Panggilan Gereja Reformed Injili Indonesia bukan hanya untuk memberitakan Injil maupun mengajarkan doktrin Reformed Injili, tetapi menjalankan disiplin gereja baik dalam doktrin/pengajaran maupun dalam aplikasi hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Panggilan tersebut sangat signifikan karena banyak gereja maupun orang kristen telah memasukkan konsep kafir ke dalam doktrin/ pengajaran maupun aplikasi hidup jemaat Tuhan, baik sadar maupun tidak sadar. Dalam hal ini, panggilan Gereja Reformed Injili Indonesia adalah mengajak setiap gereja dan jemaat Tuhan mengadopsi prinsip kekristenan yang benar. Hari ini kita belajar mengenai beberapa poin yang kita dapat pelajari dalam prinsip kekristenan dalam disiplin gereja adalah:

a. Tidak ada jalan pintas dalam mengenal Allah dan Kebenaran-Nya, kita harus kembali setia kepada Alkitab sebagai satu-satunya standar Allah . Konsep kesetiaan harus bermula dari akarnya, bukan buahnya. Jika akarnya tidak setia maka buahnya pun hasil dari ketidaksetiaan. Seorang pemuda mengatakan kepada saya, bolehkan saya menginjili orang lain dengan akar teologi sukses dan mengharapkan mereka dapat menerima teologi penderitaan Kristus. Saya mengatakan, kebenaran itu tunggal, tidak ada double standard, maka mengenal Allah dan kebenaran-Nya harus kembali kepada akar yang sakral dan kebenaran yang sakral pula. .

b. Jemaat Tuhan harus mau rela mendengar dan taat kepada Allah. Hari ini banyak jemaat Tuhan melayani Tuhan tetapi semuanya itu belum menjamin ia pasti mau dengar dan taat kepada Allah. Keterlibatan jemaat dengan Allah menjadi poin penting karena keterlibatan itulah yang membuat setiap kita dapat menikmati apa yang kita dengar dan kita responi dengan taat menjalankan perintah Allah.

c. Keterlibatan Tuhan-jemaat-Nya mengarahkan kita untuk mengikuti jalur Tuhan, yaitu Firman Tuhan adalah Allah dan Kebenaran yang menjadi patokan dalam konsep nilai manusia dalam menilai segala sesuatu. Hari ini banyak gereja justru mengambil patokan bukan ikut jalur Tuhan tetapi mengikuti jalur kerelatifan dalam pengalaman manusia maupun nubuat. Dunia semakin memberanikan diri untuk membungkam mulut orang kristen agar tidak berani mengambil patokan yang jelas dalam mendidik gereja dan jemaat Tuhan untuk menjaga kekudusan dalam Firman dan pelayanan. Ironisnya, orang kristen sendiri tidak kritis terhadap dirinya sendiri sehingga banyak konsep-konsep kepalsuan religius yang sudah mencuci otak konsep mereka tentang apa itu kekristenan.

Hari ini, Era Postmodernisme telah merusak dunia termasuk kehidupan jemaat dan gereja Tuhan dengan semangat:

a. Relativisme. Tidak ada kebenaran absolut. Tidak ada kebenaran yang sejati. Semuanya adalah kebenaran. Meskipun berbeda-beda tetapi itu adalah kebenaran. Perbedaan itu hanyalah karena perbedaan perspektif/ cara pandang kita melihat saja. Siapakah yang berhak menentukan kebenaran adalah benar? Lyotard mengatakan biarkanlah komunitas yang menentukan kebenaran. Dalam hal ini Lyotard memberikan ruang lebar bagi manusia untuk bebas menentukan kebenaran itu benar atau tidak benar sesuai dengan perspektifnya masing-masing. Bukankah ini ide win-win solution yang tidak realistis dan konyol? Gereja mempermainkan dan dipermainkan oleh kebenaran. Jemaat juga mempermainkan dan dipermainkan oleh kebenaran dan semuanya itu benar?

b. menekankan freedom yang pluralis – multi form. Apakah saudara masih ingat kontroversi karikatur gambar Muhammad yang diterbitkan oleh surat kabar terkemuka di Denmark, Jyllands-Posten sehingga dunia islam marah besar bagai kebakaran jenggot. Menurut saudara, kenapa surat kabar tersebut berani menerbitkan karikatur gambar Muhammad padahal mereka tahu tindakan mereka begitu berbahaya bagi kaum extremis islam? Pesan mereka adalah self-censored dan freedom of speech/expression dari imajinasi mereka mengenai Muhammad. Meskipun mereka meminta maaf kepada dunia islam, mereka tidak sudi menarik karya karikatur kontroversial tersebut karena itulah kebebasan yang harus dihormati oleh siapapun, termasuk dunia islam. Jika mereka menggunakan freedom of speech/ expression dengan benar maka semua orang sehati menghormati freedom of speech mereka. Jika mereka menyalahgunakan freedom of speech/expression mereka hanya untuk “having fun”, secara tidak langsung, mereka telah mempermainkan freedom of speech mereka sendiri. Ada gereja yang memberikan “fenomenal religius” yang meresahkan masyarakat dengan penginjilan terhadap arwah orang mati, bagaimana kita menanggapinya? Tahukah kita bahwa itu tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan? Seringkali kita telah melihat kepalsuan religius ada disekeliling kita tapi mulut kita dibungkamkan oleh freedom of speech/ expression kafir. Ahmadiyah dianggap palsu oleh orang Islam, justru orang Islam mati-matian menyerang Ahmadiyah karena mereka telah murtad dari kebenaran islami. Jadi respon mana yang benar? Diam atau fight?

c. gol utama mareka adalah mencapai perdamaian dalam dunia ini, oleh karena itu mereka rela membuang sejarah sebagai akar, menekankan keunikan aestetic dalam freedom of speech/expression tanpa mempedulikan etika dalam sejarah manusia. Contoh, Oikumene adalah gerakan yang merangkul berbagai macam denominasi gereja-gereja agar saling hormat menghormati dan meniadakan perbincangan teologis yang mereka anggap error”. Bagaimana bisa damai jika kebenaran Tuhan diterima oleh gereja-gereja dengan berita yang berbeda-beda? Charles Spurgeon mengatakan justru perdamaian dan persatuan dapat terealisasikan dengan baik apabila semua oknum kembali kepada satu-satunya kebenaran. Oleh karena itu, dapatkah dunia mencapai perdamaian? Jika tidak kembali kepada Allah sebagai kebenaran absolut maka tidak mungkin ada perdamaian dalam dunia ini.

d. Sosial totalitas, rakyat jadi boss maka pemerintahan harus melayani rakyat. Menurut saya, panggilan gereja adalah bagaimana mendidik jemaat tuk kembali konsentrik terhadap Firman Allah. Sebagai contoh: Kalau dahulu pendidikan sekolah, murid harus takut kepada Kebenaran, Sekarang justru kebalikannya, guru takut murid karena guru dapat disue oleh orang tua murid karena melakukan tindakan penyiksaan terhadap anak mereka. Guru punya kuasa atau murid punya kuasa lebih besar? Inilah keterbalikan logika dalam sosial totalitas.

e. Banyak mereka lebih mendeklarasikan persamaan daripada perbedaan sehingga mereka melakukan “revisi ulang”/istilah dari Jacques Derrida “re-reading” disesuaikan dengan konteks lokal. Misalnya: Saya mendengar kabar dari seorang dosen Perjanjian Lama di seminari bahwa LAI pernah mengalami kesulitan dalam menerjemahkan Yesus Anak Domba Allah ke dalam bahasa Papua. Kenapa demikian? Problem lokal Papua adalah mereka belum pernah melihat binatang domba sehingga mereka berniat mengganti domba menjadi babi, karena banyak babi di Papua. Benarkah hal tersebut? Tidak. Jadi Jelas, ini bertentangan dengan isi Firman Tuhan. Menurut penulis, mereka justru harus dididik mengenai domba, bukan mengexcuse diri dan mengubah kata domba jadi babi. Itu tindakan terlalu pragmatis dan tidak bertanggungjawab. Justru kita harus jujur mengatakan definisi yang sesungguhnya yaitu mendidik gereja dan jemaat tuk setia di dalam Kebenaran Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran yang mutlak yang menjadi kunci kebenaran dan perdamaian yang sejati.

By His Grace
Daniel Santoso
Guangzhou, China

Kamis, 27 November 2008

Sola Scriptura & Ibadah

Beberapa tahun ini saya sedang menggumuli sebuah pertanyaan, apa arti sebuah ibadah dalam konteks gerejawi? apakah ibadah hanya sekadar digambarkan seperti memberi sebuah pujian kepada Tuhan, memberikan yang terbaik, yang harum, yang sejati di hadapan tahta Allah? Apakah benar saya telah memberikan yang terbaik, yang harum, yang sejati di hadapan Allah? Rasanya saya ingin meneteskan airmata pertanda sampai hari ini saya belum dapat memberikan yang paling terbaik, yang paling harum, yang paling sejati di hadapan Allah. selama ini saya hanya bisa memberikan apa yang ada pada saya, memberikan “rempah-rempah pelayanan” yang bukan kualitas surgawi, bukan juga memberikan pelayanan yang paling “sejati” seperti kesejatian Tuhan. Jika demikian, mengapa Tuhan masih mempercayakan saya untuk melayani Tuhan? beribadah di hadapan Tuhan?

Saya sangat diberkati Tuhan saat saya membaca artikel dari John Macarthur “The critical element of true worship” yang membahas Roma 11:1-2, Macarthur memberikan penjelasan bahwa seringkali ibadah hanya dicomment dengan eksistensi musik sehingga definisi worship cenderung “fragmented” dan sempit. secara logika, apakah musik memproduksi ibadah? atau ibadah yang sebenarnya memproduksi musik?

Seringkali logika kita telah salah menempatkan musik dan ibadah di dalam satu definisi yang sama. meskipun musik sangat berhubungan dengan ibadah, tetapi musik hanyalah bagian dari worship. sedangkan worship menjadi essensial di dalam totalitasnya. Apa yang bisa kita pelajari dari Roma 12:1-2?

Pertama, ibadah harus memiliki connecting dengan His mercies. Bagi Macarthur, inilah pure of worship (Roma 11:33-36). kita dapat beribadah kepada Tuhan, melayani Tuhan, memuji nama Tuhan karena belas kasihan Allah dinyatakan kepada kita. saya percaya poin pertama sangat berkesan di dalam kehidupan seorang reformator, Martin Luther. Semakin dia belajar teologi di seminari, melayani jemaat Tuhan di gereja dan masyarakat, Luther semakin menemukan dirinya yang lemah dan berdosa. Tebakan saya adalah tempat yang paling banyak ia singgahi di masa mudanya adalah confession room. Luther menyadari bahwa dirinya berdosa, ia menyadari dirinya dapat beribadah kepada Tuhan, melayani Tuhan karena ada belas kasihan Tuhan yang dinyatakan didalam hidupnya. Rasul Paulus hendak memperingatkan agar kita sebagai pembaca menyadari bahwa semua hanya karena belas kasihan Allah maka no room for pride! sadarilah limitasi diri dan bergantung pada belas kasihan Allah.

Kedua, ibadah memiliki mandatnya sendiri. ada aturan, cara dan ketentuannya sendiri yaitu harus biblical. saya percaya panggilan hidup setiap orang kristen adalah menjalani hidup seturut dengan cara Tuhan yang tercantum di dalam Alkitab, bukan pakai metode manusia yang spekulatif. sebagai contoh, pertama kali saya beli mp3 player dan saya sedang mencoba mendengar lagu dari mp3 player itu. hasilnya nihil. saya pikir mp3 player itu rusak. herannya, saat saya bawa kembali ke toko jual mp3 player tersebut. dia bilang tidak rusak. saya gak dapat mendengarkan mp3 karena saya pilih tombol “hold” sehingga “locked”. penjualnya mengatakan caranya ada tertulis di manual booknya! dari contoh ini, kita seringkali memakai cara sendiri untuk beribadah kepada Tuhan sehingga saat kita tidak enjoy dalam ibadah, justru kita menyalahkan Tuhan. Kita sudah memiliki manual book “Alkitab” dan kita perlu bantuan roh kudus untuk memahami aturan2 apa yang terkandung di dalam Alkitab.

Ketiga, ibadah adalah totalitas hidup manusia. heart understanding- serahkan semuanya kepada Tuhan dan mengasihi setiap belas kasihan Tuhan. Oswald Chamber memberikan new insight kepada saya sebagai pembaca di dalam artikelnya “Pertanyaan yang menusuk hati”. Chamber mengutip Yohanes 21:15-18 … Simon Petrus, Apakah engkau mengasihi Aku? sebuah pertanyaan yang menusuk hati Petrus. Petrus begitu mengasihi Yesus sampai matipun dia rela – kelihatannya hebat banget tetapi respon tersebut hanyalah sebuah respon alamiah seperti orang-orang (kasih emosional belaka). respon Petrus begitu menyentuh emosi dan menyentuh kedalaman diri secara lahiriah tetapi tidak menyentuh roh. Firman Tuhan selalu bikin kita gelisah, tersiksa, kesakitan karena Tuhan hendak mencabut “peluru dosa” yang ada di dalam tubuh kita dan membebaskan kita dari side effect “peluru dosa” tersebut. Bagaimana dengan Iblis? justru iblis tidak akan menyakiti kita … dia akan memberikan service yang kita sukai karena iblis tahu selera keberdosaan kita ... dia dapat mewujudkan semua yang kita minta karena semua sesuai selera Iblis juga. Tiga kali Yesus berkata “Apakah engkau mengasihi Aku?”. Petrus sadar bahwa Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu … kau tahu aku hanya bisa berespon secara alamiah. Tuhan berkata “ Peliharalah domba-dombaku”. Jawaban yesus sesuai dengan hukum paling utama di dalam Taurat yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia … itulah ibadah yang diperkenan Tuhan, sesuai dengan Alkitab (Matius 22: 33-40).


Keempat, ibadah memiliki mindset yang dibagi menjadi dua yaitu negatif dan positif. mindset bersifat negatif yaitu jangan sama dengan dunia ini (Roma 12:1). mindset bersifat positif yaitu being transformed (Roma 12:2). banyak kita berdebat mengenai musik sehingga kita tidak melihat mindset kita sudah betul atau belum, sudah berbeda dengan dunia atau sama dengan dunia ini. Jangan membuang waktu berdebat soal musik dulu tapi mindset kita sudah berbeda dengan dunia belum? sudah dibongkar oleh Firman atau belum? udah ditransformasi atau belum? Dalam hal ini, mindset kita harus total abundat dulu, total renovasion your mindset, bukan emosi. emosi harus dikendalikan dibawah mindset! jangan emosi merajai mindset! jika emosi jadi raja dari mindset maka positioning pasti bergeser alias kacau! justru kita harus kembali kepada mind of Christ (1 Korintus 2:16) yaitu learn from the Bible. oleh karena ibadah tidak bisa dilepaskan dari Sola Scriptura, back to Scripture alone.

Terima Kasih Tuhan ….atas pertolongan-Mu

Daniel Santoso
Beijing, China
http://www.danielsantoso.blogspot.com

Kamis, 20 November 2008

Sola Scriptura & Definisi Orang Benar

Apakah yang dibutuhkan manusia di dalam dunia ini? makan untuk hidup? atau hidup untuk makan? Di dalam Matius 4:4, Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius4:4). Hidup bukan butuh roti saja tetapi butuh firman Allah yang hidup dan menghidupkan itu. Hanya melalui Yesus, Firman Allah sejati yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah rela inkarnasi menjadi manusia demi menyelamatkan manusia yang berdosa melalui kematian di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga. Manusia harus hidup di dalam firman Allah, tetapi manusia harus sadar keberdosaan dirinya di hadapan Allah dan hanya Allah dapat memberikan arti hidup yang sesungguhnya. celakanya, banyak orang menganggap dirinya orang benar sehingga hidup di dalam kesombongan alias dosa.

Kenneth & Gloria Copeland dalam bukunya “From faith to faith” mengatakan bahwa tidak peduli betapa buruknya anda telah mengacaukan segala sesuatu kemarin atau betapa banyaknya kesalahan yang telah kami perbuat. Copeland memulainya dari “anda benar” secara sempurna sebagai “starting memory card” untuk bertunas seperti pohon kurma (Mazmur 92:13), mujur (Amsal 11:10), diselamatkan (Amsal 11:21), dilihat Tuhan (1 Petrus 3:12), diberkati (Mazmur 5:13), ditolong (Mazmur 34:18), tak pernah ditinggalkan (Mazmur 37:29), menerima warisan (Mazmur 146:8). kenapa Copeland memulai dengan “anda benar”? Bagi Copeland, Alkitab memberitahukan kita bahwa dibawah hukum imamat, seekor hewan harus dipersembahkan setiap tahun untuk “menebus” dosa umat manusia. kata “menebus” berarti menudungi dan itu digunakan terus menerus di seluruh Perjanjian Lama. Di dalam bahasa Yunani, bukan hanya berarti menudungi tetapi membatalkan, menghilangkan sama sekali! Copeland percaya bahwa tidak ada masalah lagi dengan dosa. Yesus telah menyelesaikannya. Secara pribadi, saya melihat bagaimana Copeland memberikan renungan yang “membangkitkan semangat” untuk membenarkan diri sebagai orang benar, karena anugerah penebusan-Nya yang mengubahkan orang percaya selama-lamanya menjadi kebenaran Tuhan yang sejati. Wow … Orang percaya berubah menjadi kebenaran Tuhan sejati? kebenaran Tuhan yang sejati adalah Kristus. Kristus adalah Tuhan 100%, Manusia 100%. orang percaya adalah manusia 100% … berubah menjadi kebenaran Tuhan sejati, apakah yang dimaksud adalah menjadi Tuhan 100%? Ini bidat! Justru dari pemikiran Copeland inilah, Benny Hinn mempercayai bahwa Tuhan adalah The Almighty God dan kita hanyalah anak-anak “The Almighty God” yang divine karena menerima benih keallahan dari karya penebusan Kristus. Itu sebabnya, Copeland menolak ide teologis bahwa manusia hanyalah seorang pendosa yang diselamatkan oleh anugerah. bagaimana opini saudara?

Alkitab mengajarkan kita bahwa manusia berdosa telah kehilangan kemuliaan Allah dan menyeleweng dari kebenaran yang sejati (Mazmur 14:2-3). tidak ada seorangpun yang baik, seorangpun tidak! Ketika Yesus berada di dunia, Ia berkata “ Akulah kebenaran” (Yohanes 14:6). Demi keselamatan dan kehidupan moral yang benar, Firman kebenaran, yang adalah Allah sendiri rela menjadi manusia (Yohanes 1:14). Setelah mati dan bangkit kembali; Yesus naik ke sorga. Kini, manusia diberikan Alkitab sebagai standar kebenaran. maka manusia harus kembali kepada Firman, barulah mereka dapat dikatakan sebagai orang benar. Jadi definisi jelas berbeda dengan Copeland. Copeland merampok konsep Allah ke dalam diri orang percaya sebagai orang benar sejati selama-lamanya, kelihatannya divine tapi justru itu man-centered. Justru Reformed mengajak kita untuk berbalik! Kembali kepada Firman Tuhan, biarlah Allah menjadi Allah, manusia menjadi manusia … yang taat kepada standar Firman-Nya di dalam dunia. Already in Christ but they are not yet perfect in this world (Anthony Hoekema). Waiting until His judgement Day. inilah definisi yang well-balanced dan sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Amen!

Check this out!
Biblical and Theological resources from the ministry of Dr. Sam Storms
http://www.enjoyinggodministries.com
On Kenneth Copeland (heresy)
http://www.ondoctrine.com/10copela.htm

In His love
Daniel Santoso
Beijing, China

Sola Scriptura & Gereja

Saya baru membaca sebuah artikel dari Fr. John Whiteford yang berjudul “Sola Scriptura: in the vanity of their minds” yang memberikan kritik terhadap “Sola Scriptura”, bahwa denominasi Protestan telah lari terlalu jauh dari tradisi gereja (katolik). Whiteford menganggap “Sola Scriptura” telah menyebabkan perpecahan gereja yang melahirkan beragam denominasi-denominasi yang kelihatannya sama-sama membaca Alkitab, tetapi berbeda di dalam aplikasi pribadi dan komunitas denominasi masing-masing. Whiteford mengatakan bahwa gereja semestinya melawan ajaran-ajaran bidat, tetapi justru gereja memproduksi denominasi-denominasi bidat. Konklusi dari whiteford adalah gereja kacau karena “Sola Scriptura”. bagaimana opini saudara mengenai hal ini?

“Sola Scriptura” dicetuskan oleh Martin Luther, bukan melawan Allah diatas gereja. Luther justru melawan gereja yang telah salah menafsirkan otoritas gereja atas kebenaran Allah. Luther mempercayai Firman Allah cukup memberikan “defense” melalui Diri-Nya sendiri. John Piper mengatakan bahwa Firman Allah bukanlah perkataan yang mati atau tidak efektif. Justru, didalamnya ada kehidupan dan perkataan itu membuahkan hasil. Apa yang dilakukan oleh Firman yang hidup dan efektif ini? menyingkapkan siapa diri kita sesungguhnya maka kita perlu bercermin di hadapa Firman-Nya dan pekerjaan Roh Kudus memimpin kita untuk mengenal kebenaran-Nya dengan “back to the bible”.

Bagi Gereja Roma Katolik, Sola Scriptura bukan solusi, tetapi justru problem karena Alkitab bukanlah self-interpreting sehingga hasilnya chaos. Bagi Gereja Roma Katolik, kita perlu mendasarkan prinsip teologis di dalam II Tesalonika 2:15 bahwa gereja memiliki otoritas atas Firman Tuhan yang diturunkan baik secara oral maupun tertulis oleh para rasul. Dalam hal ini, gereja mengangkat pentingnya magisterium dalam kebenaran. Itulah sebab gereja roma Katolik menganggap “Sola Scriptura” adalah bidat. bagaimana menurut saudara? Reformed tidak menolak gereja punya otoritas untuk mengajarkan Firman Tuhan, justru Reformed harus tekun menjalankan aktivitas rohani tersebut. Di dalam I Timotius 3:15 menyatakan gereja adalah pilar dan fondasi dari kebenaran. apa itu kebenaran? kebenaran adalah Yesus Kristus. bagaimana kita dapat mengenal Yesus Kristus? Alkitab. Gereja harus memberitakan kebenaran dan membawa jiwa-jiwa tersesat percaya kepada Yesus Kristus, satu-satunya juruselamat dunia. Tetapi gereja tidak mendapatkan wahyu maupun otoritas untuk memerintah ajaran Alkitab. Hanya Kristus, sebagai kepala gereja satu-satunya yang berhak memerintah dan “menafaskan” Kebenaran kepada gereja dan orang benar. problemnya, gereja terlalu berani mengotori kesucian prinsip Firman Tuhan dengan “human interpretation” sehingga posisi otoritas gereja menjadi “false”. James White memberikan contoh di dalam Matius 22, ketika Yesus berdebat dengan kaum Saduki (menolak konsep kebangkitan), Yesus berani memberikan kritikan pedas kepada mereka karena mereka tidak kembali kepada kebenaran yang “dinafaskan” Allah, melainkan meragukan Firman serta membuang keutuhan Firman ke dalam recycle bin sampai empty. Yesus berkata, "You are in error because you do not know the Scriptures, nor the power of God, for in the resurrection, they neither marry nor are given in marriage but are as the angels in Heaven. But concerning the resurrection of the dead have you not read what God spoke to you, saying 'I am the God of Abraham, the God of Isaac and the God of Jacob.'" James White memberikan explanation bahwa perspektif Yesus adalah perspektif yang “biblical” dan “senafas” dengan Firman Allah. Scripture is God speaking to man. It is theopneustos. God-breathed. inilah keunikan “Sola Scriptura”. Mazmur 119:89 "Your word, Oh, Lord, is eternal. It stands firm in the heavens."
Jadi, siapa yang sesungguhnya bikin kacau?

check this out!
http://www.christiananswers.net/indonesian/q-eden/sola-scriptura-earlychurch-i.html

In His Love
Daniel Santoso
Beijing, China
http://www.danielsantoso.blogspot.com

Kamis, 17 Januari 2008

Fire and Ministry

Nats : Imamat 9:23-24 / 10:1-3

Di dalam Imamat pasal 8, Allah memerintahkan Musa memanggil Harun dan keturunannya untuk menahbiskan mereka sebagai pelayan kemah suci tetapi pertanyaan yang muncul adalah apakah mereka yang ditahbiskan oleh Allah pasti kaum yang diselamatkan Tuhan ? Mengapa Tuhan murka terhadap anak Harun ? bukankah Allah telah menahbiskan mereka ? Apakah Tuhan salah menahbiskan mereka ?

1. Setiap pelayanan yang benar harus bersumber pada Firman Tuhan dan Perintah Tuhan. Memang Musa diperintahkan Allah untuk menahbiskan Harun dan keturunannya untuk menjadi pelayan kemah suci tetapi bukan berarti mereka layak melayani Tuhan tetapi justru kita dapat belajar melihat Allah sendiri yang memberikan perintah. Apakah perintah Tuhan bisa salah ? Allah tidak mungkin melakukan kesalahan tetapi Allah mengizinkan tragedi Nadab dan Abihu melalui perintah-Nya untuk apa ? membukakan mata kita bahwa sumber pelayanan hanya ada pada Allah satu-satunya. Apakah pelayan Tuhan di seluruh dunia mengamenkan dan mengerjakan hal ini ? Ironis, banyak pelayan-pelayan Tuhan melayani Tuhan bukan karena kesadaran bahwa sumber pelayanan dari Tuhan tetapi justru mengerjakan sebuah perjuangan “ self actualization “ agar mereka dapat “ go international “ melalui observasi, studi yang mendasari aplikasi mereka. Ini bukan ajaran Alkitab. Allah memberikan perintah untuk mereka melayani kemah suci dengan kesucian ! Disini kita harus mendisiplinkan diri untuk melihat apa itu perintah Tuhan ? perintah Tuhan itu absolute dan tiada seorangpun yang mampu mengantikan perintah-Nya karena mereka bukan Allah. Kita harus juga belajar melihat di dalam perintah Allah ada “ education “. Ada pendidikan yang membawa setiap pelayan-pelayan Tuhan untuk tidak liar melayaninya tetapi dibawa untuk mendisiplinkan diri untuk melayani. Oleh karena itu setiap pelayanan harus kaku di dalam prinsip Firman Tuhan karena tidak dapat dipermainkan oleh siapapun ! setelah saudara mendengar ini semestinyalah saudara merasa takut dan gentar karena pelayanan saudara adalah milik Tuhan, bukan hasil kekreatifan pemikiran manusia di dalam pelayanan. Dimana takut dan gentarmu hari ini ! berbaliklah pada Tuhan dan takutlah kepada Tuhan karena itulah awal dari pengetahuan termasuk pelayanan ! ada hak apa kita melayani Tuhan jika sumber bukan dari Tuhan?

2. Sebelum kita dapat melayani orang lain, kita harus terlebih dahulu dikuduskan dari dosa dan menyerahkan diri kita secara total kepada Tuhan. Disini setiap pelayan Tuhan harus belajar senantiasa memelihara keselamatan di dalam proses pengudusan ( sanctification ). Jadi, semakin seseorang dekat dengan Allah maka semakin ia harus menghormati kekudusan Tuhan di dalam kehidupan pribadinya dan pelayanannya, jika tidak ia mati ! Nadab dan Abihu adalah pelayan-pelayan Tuhan dari garis keturunan Harun. Harun adalah Imam dan mereka adalah anak-anak imam.Banyak orang mengatakan bahwa mereka adalah orang suci tetapi apakah segala sesuatunya berlaku secara otomatis bahwa karena Harun adalah imam maka anak-anaknya pasti beres imannya ? jawaban adalah tidak ! Jadi jangan kira saudara termasuk keluarga orang percaya maka saudara otomatis adalah orang percaya. Mimpi ! Justru dari kisah ini kita melihat bahwa Nadab dan Abihu mengambil perbaraan, membubuhkan api dan menaruh api dan ukupan di atas api. Mereka tidak berhak melakukan itu tetapi mereka “ kreatif “ melakukan pelayanan menurut ambisinya sendiri. Disini bentuk nyata bahwa meskipun mereka adalah anak imam tapi hidupnya tidak otomatis mencerminkan keimaman melainkan ada didikan bagi manusia untuk diproses becoming to be his servants. Pendidikan disini berbicara mengenai kerelaan diri untuk mengikuti apa yang Tuhan mau kita kerjakan di dalam pelayanan. Seringkali kita kurang dapat mengerti kenapa pemimpin rohani kita marah maupun keras kepada kita, akan tetapi kita harus belajar melihat Tuhan yang melalui diri mereka, kita diajak untuk belajar mencerna setiap didikan keras yang mereka ajarkan. Maka sanctification kita nikmati dari Tuhan sendiri, salah satunya melalui pemimpin rohani kita. Kejatuhan Nadab dan Abihu adalah mereka tidak setia kepada Tuhan dan pemimpin rohani mereka yaitu Harun. Akhirnya murka Allah nyata di atas mereka.

3. Murka Allah dinyatakan bagi mereka yang kreatif membangun pelayanan yang tidak God centered. Kenapa Nadab dan Abihu dimurkai Allah ? mereka dimurkai Allah karena mereka telah menaruh api asing ke mezbah persembahan – api yang tidak diperintahkan oleh Allah. Bukankah ini menjadi gambaran kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan yang seringkali melayani bukan dengan api dari Tuhan tetapi menaruh api asing ke dalam pelayanan kita sendiri sehingga pelayanan kita dimurkai oleh Tuhan. Dalam Imamat 9 :23-24 – Api Tuhan menghanguskan mezbah korban maka bangsa bersorak dan sujud menyembahnya. Dalam 10:1-3 – Api Tuhan menghanguskan anak harun dan semuanya terdiam. Melihat catatan sejarah ini, mari kita merefleksikan diri kita di hadapan Tuhan, bukankah kita seringkali melayani bukan dengan api dari Tuhan ? seringkali kita melayani Tuhan tetapi membawa api sendiri yang asing sehingga pelayanan kita justru mati dan hangus. Nadab dan Abihu adalah imam tetapi melayani tidak sesuai dengan perintah-Nya, mereka telah menodai kekudusan Tuhan. Sebagai pelayan Tuhan, seharusnyalah mereka menunjukkan hormat kepada Allah dan kekudusan-Nya. Adakah pelayan Tuhan yang hormat kepada Allah hari ini ? adakah pelayan Tuhan yang menjunjung kekudusan-Nya dalam pelayanan hari ini ?

Dalam Kasih-Nya

Ev. Daniel Santoso

Jakarta, Indonesia

Selasa, 20 November 2007

Love or Hatred ?

Dalam perjalanan kembali dari guangzhou – hongkong – taipei, saya dikagetkan dengan sebuah berita violence yang terjadi pada tanggal 7 November kemarin, Tragedi penembakan tujuh murid and satu guru oleh seorang anak berumur 18 tahun bernama Eric yang menganggap dirinya “ terrorist “. Kenapa Eric bisa melakukan hal ini ? Kebencian kepada teman2 dan guru menyebabkan dirinya mengambil keputusan sebagai “ school shouter “ dan akhirnya after bunuh mereka, Eric membunuh dirinya sendiri di kamar mandi. Jika saudara mengikuti perkembangan berita news akhir-akhir ini maka sebenarnya apa yang terjadi di Jokela High School hanyalah pengulangan tragedi virginia tech dimana choo seung hui melakukan penembakan terhadap tiga puluh orang karena alasan “ this is for my generations “.

Kebencian banyak telah mengambil tempat paling penting di dalam hidup manusia khususnya di dalam merusak relasi satu manusia dengan manusia yang lain. Sebenarnya apakah hidup manusia selalu menawarkan kebencian kepada manusia lainnya ? Jika kita lihat di dalam Alkitab, Matius 5:43-48 disitu justru Kasih menjadi poros paling penting di dalam kehidupan manusia yang sesungguhnya. Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu – inilah ajaran Yesus Kristus. Mungkin kita akan berkata “ lho kok aneh ? “. Frederich Nietzche memberikan penilaian bahwa ajaran Yesus itu ajaran pengecut karena musuh itu ada untuk dikalahkan bukan untuk dikasihi. Hanya orang “ sempel “ aja mengadopsi paradigma seperti itu. Nietzche mengatakan itu bahwa itulah hidup manusia, dipenuhi kebencian dan permusuhan , jadi teror-teror yang terjadi pada manusia itu adalah hal biasa saja. Tetapi justru Yesus membawa setiap kita untuk melihat kasih sebagai fokus hidup yang perlu kerelaan untuk “ radix “ dan “ kaku “ di dalam mengasihi musuh. Yesus justru mengajarkan setiap orang kristen untuk belajar mengampuni dari atas dasar kasih. Kedua, belajar melihat kebaikan orang lain ketimbang kejahatan orang lain terhadap kita. Meskipun terkesan “ injustice “ tetapi kita harus menilai segala sesuatu didalam cara pandang yang “ fair “ secara christianly baik di dalam theology maupun di dalam application. Ketiga, belajar bukan mengalahkan musuh sebagai goal tetapi justru musuh yang menjadi sahabat.Bagaimana saudara membaca hal ini ? mungkin saudara akan mengatakan bahwa kenapa Yesus kok mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang “ aneh “ ? Jika kita membalas kebencian dengan kebencian maka kita sedang “ menularkan “ kebencian kepada orang lain. Tanpa sadar, kita sudah mengembangbiakkan “ evil to others “. Ini side effect ! Kedua, natur dari kebencian itu sendiri bersifat menyiksa dan menghancurkan. Bukti nyata hadir di dalam tragedi virginia tech maupun jokela high school di south finland. Ketiga, kasih memiliki power lebih besar atas kebencian. Sebagai penutup, sebelum menjadi presiden USA, Abraham Lincoln pernah dibenci oleh seorang rekan bernama Stanton tapi Lincoln hanya diam. After Lincoln jadi presiden USA, Lincoln justru mengangkat Stanton ( rekan yang benci Lincoln ) sebagai menteri penerangan. Banyak orang kaget dengan pemilihan calon menteri penerangan dari Lincoln, kenapa lincoln melakukan hal ini ? bukankah cari orang yang tepat adalah orang yang sesuai dengan selera kita ? Lincoln mengatakan bahwa saya memang tidak menyukai Stanton, tetapi demi negara saya harus pilih dia karena dialah yang terbaik. Ini contoh orang yang memiliki hati lapang dada yang besar. Disinilah kasih bekerja dan menang. Akhirnya Stanton menyadari bahwa Lincoln adalah instrumen kasih Allah yang hadir bagi dirinya. Adakah mental “ Lincoln “ di zaman ini ?


Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Kamis, 30 Agustus 2007

I'm Lovin It ...

Suatu hari saya sedang duduk di McDonald Restaurant dekat Shin Kong Mitsukoshi Tower menikmati cheese burger “ uncle sam “, coca cola “ uncle sam “, chicken nugget “ uncle sam “ PLUS musik “ ABC “ dengan bintang iklan “ ABC “ serta souvenir meal “ hollywood “ dan icon “ superstar “. Semuanya membuat saya sangat menikmati “ standar “ fast food tipe uncle sam. I’m lovin it ! Di dalam kenikmatan saya menikmati meal tersebut, muncul kegundahan di dalam pikiran saya untuk merenungkan aksi glokalisasi maupun globalisasi dunia. Glokalisasi, sebuah penyesuaian produk global dengan karakter pasar ( lokal ). Tidak heran, McDonald dan Coca Cola Taiwan – Hongkong - China mengunakan Leehom Wang sebagai bintang iklan untuk mendekati pasar Taiwan – Hongkong – China. Sedangkan globalisasi, Menurut RP Boorong, jika kita melihat dari sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik yang melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi dan informasi dan disintegrasi negara-negara komunis yang mengakhiri Perang Dingin memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global. Itu sebabnya di bidang ideologi perdagangan dan ekonomi. Secara sangat sederhana bisa dikatakan bahwa globalisasi terlihat ketika semua orang di dunia sudah memakai sepatu Nike, makan McDonald, minum Coca-Cola.

Di dalam dunia akademis, Sebuah buku berjudul “ The End of Ideology “, Daniel Bell memberikan analisa futurologis terhadap globalisasi di saat Sosialisme Marxis dan Liberalisme klasik mengalami keruntuhan total. Sosialisme Marxis yang memimpikan kesempurnaan harmoni sosial di dalam masyarakat tanpa kelas dan Liberalisme Klasik yang memimpikan sorga komersial kapitalisme merupakan dua ideologi besar Barat di abad 19 yang melalui perjalanan sejarah mengalami jalan buntu sehingga runtuh total dan memicu munculnya ideologi-ideologi baru di negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika yang terlampau terbatas untuk dapat menarik minat khalayak pasca perang dunia ke 2 dan USA. Menurut Daniel Bell, hal tersebut terjadi karena orang Barat sudah kurang bisa menerima bentuk-bentuk ekstremis politik yang berbahaya dan lebih cenderung mengambil jalan tengah dalam “ welfare state “ menuju masyarakat yang lebih rasional dan tanpa kesusahan. Argumen diatas di satu sisi memberikan “ penghiburan “ kepada masyarakat yang mengalami trauma di dalam sepanjang perjalanan sejarah tersebut tetapi disisi yang lain justru tiada suara kepahlawan maupun kenabian muncul dari politik dan masyarakat sehingga Daniel Bell menanggapi pesimisnya masa depan globalisasi.

Setelah runtuhnya rezim-rezim komunis di Eropa Timur dan Uni Soviet pada tahun 1989 hingga 1990, Francis Fukuyama muncul di kancah “ futurologis “ meresponi runtuhnya rezim-rezim diatas bahwa dengan berakhirnya Marxisme dan Leninisme sebagai ideologi politik tidak menandai apapun kecuali “ titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia “. Berbeda dengan Daniel Bell, Fukuyama justru menganggapnya sebagai kemenangan telak liberalisme politik dan ekonomi dan kejayaan Barat serta penyebaran budaya konsumer ke seluruh dunia tidak bisa dibendung dalam perkembangan logis maupun kekuatan pasar. Fukuyama mempercayai : Pertama, demokrasi kapitalis Barat merupakan bentuk final dari pemerintahan umat manusia. Kedua, Globalisasi pasar bebas merupakan proses yang tak dapat diubah. Ketiga, norma-norma dan nilai-nilai Anglo-Amerika akan sangat meneguhkan kerangka budaya dunia yang mengalami deideologisasi ini sehingga Fukuyama menyimpulkan posisi USA saat ini sebagai satu-satunya negara superpower telah menjadikan “ Amerikanisasi “ sebagai suatu kemestian yang menyertai globalisasi. Pertanyaannya adalah bukankah globalisasi adalah proses kultural yang bukan satu dimensi tetapi multi dimensi ? Apakah globalisasi bikin orang makin sama atau beda ? Jika bikin “ Amerikanisasi “ maka itu misi homogen “ Mcdonalization “ yang efisien, cepat dan predictable menjadi standardisasi gaya hidup di seluruh dunia, tetapi jangan berarti keragaman kultural ditakdirkan lenyap. Roland Robertson mengatakan justru keragaman harus kuat dalam interaksi globalisasi dengan lokal dengan “ meminjam budaya – cultural borrowing “. Kesimpulan dari globalisasi di atas menunjukkan sebuah fakta globalisasi yang tidak bisa dihindari, begitu juga jurang pemisah kaya – miskin karena kekayaan yang tidak terdistribusi secara adil sehingga berakibat terjadinya kemiskinan, pengangguran, kelemahan dalam kesehatan, kebodohan dalam pendidikan maupun rusaknya lingkungan hidup.

Bagaimana orang kristen meresponi hal-hal di atas ? Seringkali globalisasi menghalalkan segala cara untuk exist dengan mamonisme ( idolakan uang ), hedonisme ( mengumbar nafsu ), terrorisme ( mengunakan kekerasan ) dan cenderung meninggalkan Tahta Tuhan. Meskipun realita globalisasi gak bisa dipungkiri eksistensinya tetapi budaya-budaya dan kelas sosial umat manusia harus ditebus di dalam darah Kristus sebagai satu-satunya pemersatu “ kedamaian “ yang mengasihi Allah serta sesamanya dengan mempertahankan iman yang orthodoks seperti akar kuat dan aktif mengalahkan dosa “ spiritual “ maupun “ sekuler “ in one seperti badai. Itulah Syalom yang “ Transformatif “ – dimulai dari hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama, pengetahuan yang benar tentang Tuhan dan pengetahuan yang benar tentang manusia. Meskipun dunia ini telah sepenuhnya rusak karena dosa tetapi kesadaran menghasilkan dorongan bukan “ escape “ tetapi menjadi pagar pelindung dari ancaman dosa. Tuhan memberkati.

In His Time
Ev. Daniel Santoso
Taipei, Taiwan

Selasa, 28 Agustus 2007

Standar Hidup Sejati

Semua manusia yang hidup pasti akan bertemu dengan akhir hidup. Apakah mereka siap melangkah menuju pintu akhir kehidupan dunia ? ada yang siap dan ada yang tidak siap. Kenapa demikian ? bukankah kehidupan manusia dipenuhi dengan “ folder-folder “ yang meaningless ? manusia telah bekerja keras tetapi mereka tidak mendapatkan sebuah kualitas hidup sejati tapi malah mati . Dalam Yesaya 65:17-25, kita dapat belajar melihat “ future - eskatos “ kualitas hidup di dalam kekekalan Allah.

Ayat 17, Di dalam Janji-Nya, Allah berfirman bahwa ia menciptakan “ New Heaven and New Earth “ yaitu “ The New Jerusalem “, dimana tiada lagi bunyi tangisan maupun suara erang pun tidak. Disini kita dapat mencerna di dalam konteks masa kini bahwa sesungguhnya janji Tuhan bukannya kita hidup lebih modern, lebih high technology dimana kita dapat menghasilkan sesuatu yang “kuantitatif” tetapi justru “ kualitatif “.Hidup penuh keharmonisan Allah, kasih Allah, kebenaran Allah dan rencana Allah.

Ayat 20, Kualitas hidup bagaimana yang sesuai standar Allah ? umur panjang ? kalo hanya umur panjang tetapi tersiksa ya sama aja. No enjoyment ! Jika umur panjang bersama dengan anugerah Tuhan, itulah hidup yang sesungguhnya. Orang yang menghidupi hidup yang sejati berarti itulah mereka yang sedang mencicipi “ new heaven, new earth, new jerusalem “ dan menikmatinya. Memuliakan Tuhan dan Menikmati Tuhan … tujuan hidup manusia ( Katekismus Westminster ).

Ayat 21-24, Hidup yang berkualitas adalah hidup saat bekerja dan menikmati hasil pekerjaannya. Itulah berkat Tuhan yang sesungguhnya ! bukan enak-enakan lalu malas-malasan lalu berharap dapat “ doorprize “. Seringkali kita kurang fair, maunya kerja sedikit, kerja enak, gaji tinggi ,itu Malas ! Itulah yang diprotes oleh Fredereich Engels dimana kaum buruh di zamannya bekerja begitu keras tetapi menerima gaji yang mininum, bukankah itu violence ? padahal majikannya adalah orang kristen yang sudah “ cuan “ banyak uang, melihat realita seperti ini Engels sangat benci terhadap orang kristen karena semua orang kristen mentalnya kayak gitu. Pertanyaannya adalah apakah dakwaan Engels ini salah ? Saya akan menjawab Tidak dan Ya. Tidak, karena Engels melakukan “ over generalitation “ mendakwa semua orang kristen seperti itu, walaupun Ya, ada sebagian orang kristen yang menerapkan dualisme yang justru menghancurkan kehidupan fisikal mereka maupun spiritualitas mereka yang “ fragmented “. Misalnya para businessman, hari senin – sabtu mental serigala, hari minggu mental domba. Inilah yang diprotes oleh Zinzendorf.

Ayat 24 , Sebuah ayat pengharapan ; sebelum manusia melakukan “ action “, Allah slelau melakukan “ Action “ terlebih dahulu. Inilah poin yang mengajak setiap kita untuk mengerti kemahatahuan Tuhan yang memberikan penghiburan kepada manusia untuk bersandar total kepada Tuhan di masa suka maupun dukanya.

Ayat 25a, hidup berkualitas itu harmonis dan sinkron, ada kesatuan,kedamaian, kerukunan, keharmonisan, tiada saling benci, dengki, iri hati, saling mendepak satu dengan lainnya. Bisa gak poin-poin tersebut terwujud ? Adalah fakta bahwa gereja sekarang banyak dikerumuni oleh orang-orang yang agresif, ambisius, haus kekuasaan, haus popularitas. Jika gereja sudah seperti ini apalagi di luar gereja, dimanakah keharmonisan gereja ? hidup yang kuat tidak menindas yang lemah, kaya tidak menindas yang miskin, pintar tidak menindas yang bodoh, senior tidak menindas yang junior. Itulah gambaran “ tidak saling memakan tetapi sama-sama makan rumput “. Disini kita dapat belajar bahwa Tanpa Anugerah Allah kita gak mungkin dapat bersatu. Justru Anugerah-Lah yang membawa kita menikmati hidup yang berkualitas di dalam harmoni relasional yang sejati.

Ayat 25b, hidup yang berkualitas adalah “ singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu “. Artinya No more Fear, gak ada yang perlu ditakuti, tiada lagi ancaman tetapi disini kita bukan hanya menikmati secara pasif tetapi setiap kita harus aktif juga tidak mengancam orang lain. Belajarlah seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Thomas A Kempis untuk belajar sabar terhadap kekurangan maupun kelemahan orang lain karena merekapun menderita karena kelemahan maupun kekurangan kita juga. Apabila kita tidak mau merubah diri, bagaimana kita dapat melihat orang lain berubah rang sikapnya ? Ini problem kita semua. Kita selalu menginginkan orang lain menjadi orang sempurna tetapi diri justru banyak kekurangan yang belum mau disempurnakan, mau jadi apa kita ? Teruslah kita mengingat bahwa hidup yang berkualitas bukan dinikmati oleh kita saja tetapi juga orang lain. Oleh karena itu marilah kita belajar memahaminya dan berjuang untuk hidup. Kualitas hidup tiada lepas dari anugerah Allah yan selalu hadir setiap pagi, setiap hari yang membuat waktu dalam hidup kita indah pada waktu-Nya.

Dalam Kasih Kristus
Ev. Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Reason and Spirituality

Dalam dunia modern, manusia mengadopsi satu semangat “ cogito ergo sum – I think therefore I am “ sehingga poin pentingnya adalah reason dan cenderung membuang spirituality. Sejak 1989 Tembok Berlin runtuh, semangat postmodern mulai ‘ laku ‘ dengan semangat “ I am therefore I think “ dan poin pentingnya adalah spirituality dan cenderung membuang reason. Inilah ketimpangan yag terjadi karena semua pemikiran tadi bermula dari sesuatu yang ‘ secondary ‘ bukan first source ! Dalam semangat modern, Immanuel Kant berpendapat bahwa pikiran manusia tidak pernah boleh menundukkan diri kepada otoritas apapun yang melampaui dirinya maka singkat kata, manusia harus otonom dan ia hanya tunduk terhadap hukumnya sendiri dan menolak ide wahyu berotoritas dari Allah karena manusia adalah otoritas tertinggi bagi dirinya sendiri sebagai penentu kebenaran. Inilah semangat modern yang tidak mau tunduk kepada Allah, mengutip kalimat dari Cornelius Van Til bahwa jika manusia menyembah dirinya sendiri sampai kepada taraf tidak mau tunduk kepada Allah maka ia pasti Kantian. Van Til justru menyatakan satu-satunya cara menemukan kebenaran adalah tunduk di hadapan Alkitab yang berotoritas dari Allah. Struktur pemikiran dari Van Til bertitiktolak pada doktrin penciptaan yang telah diterima oleh gereja-gereja orthodox selama berabad-abad yaitu Allah adalah Sang Pencipta dan dunia adalah ciptaan-Nya. God created therefore i am. Kedaulatan Allah sebagai Sang Pencipta menjadi poin penting disini Saya kagum kepada pesan dari Abraham Kuyper bahwa Kristus adalah Tuhan atas seluruh kehidupan manusia dimana setiap pikiran dan setiap bidang harus ditaklukkan dibawah kuasa-Nya. Itulah Reformed Mind !

Melihat semangat postmodern, menikmati kebebasan dalam hidup adalah spiritualitas mereka. Tidak heran, Michel Foucault membasiskan filsafatnya dengan tubuh – maka gay, lesbian, ekstasi menjadi new meaning of real life bagi mereka dan membuang reason yang selama ini bagi mereka hanyalah theory without application! Tidak heran, Jacques Derrida mendekonstruksikan bahasa menjadi limpah makna menurut kemauan manusia secara subjektif karena kekakuan cara pikir hidup manusia sehingga ia membuang ke-absolut-an ! kenapa ? karena mereka tidak tahan dengan kekakuan modern alias ketidakpuasan atas reason yang diabsolutkan. Tertuliskan dalam Alkitab - Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dan dunia diciptakan oleh Firman Tuhan maka manusia bisa hadir dalam dunia ini karena Firman Tuhan. Tetapi manusia ingin jadi seperti Allah sehingga manusia jatuh ke dalam dosa. Satu-satunya solusi melalui Yesus Kristus, Firman menjadi Daging ( Yoh 1 ) dan diam bersama-sama dengan manusia dan manusia melihat kemuliaan Allah bahkan Ia rela mati menebus dosa manusia dan memberikan keselamatan bagi mereka yang diselamatkan-Nya maka pertanyaan apakah kita memancarkan kemuliaan Sang Pencipta-Sang Absolut dalam tubuh kita yang diciptakan-Nya ?God loved therefore I am ! Itulah Reformed Spirituality !

Gloria in excelsis Deo
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan

Searching for Meaning

Perjalanan waktu terus bergulir dari tahun ke tahun, bulan ke bulan, minggu ke minggu, hari ke hari, jam ke jam, menit ke menit, detik ke detik dan manusia berada di dalam perjalanan waktu tetapi apakah itu waktu ? Agustinus pernah berkata ?jika engkau tidak pernah bertanya kepadaku apa itu waktu maka aku telah menganggap diriku tahu apa itu waktu tetapi saat engkau bertanya kepadaku apa itu waktu sesungguhnya aku tidak tahu apa itu waktu ? Melalui Kitab Pengkhotbah 3:2-8, Kita dapat melihat satu poin apakah itu waktu ? Waktu adalah Kehidupan. Segala sesuatu waktunya. Ada waktu lahir, ada waktu meninggal, dsb. Realita kehidupan manusia seakan dibawa ke dalam filsafat thesis antitesis dari Hegel sehingga realita kehidupan manusia benar-benar mengenaskan karena mereka lahir untuk mati. Tidak sedikit keinginan manusia hendak berteriak ?cukup sudah aku hidup dalam dunia ini ! ? Tidak heran, majalah The Economist memberikan judul The End of the World dalam edisi tahun baru 2005, Tidak heran orang kristen lebih tertarik kepada Doctrine of Eschatology ketimbang belajar doktrin lainnya. Tidak heran, film Armageddon, Independence Day, A1;Artificial Intelligent, The Day After Tomorrow, dsb laku keras. Tidak heran, Francis Fukuyama menuliskan thesis End of History tahun 1992 yang tetap mengelegar sampai hari ini dalam dunia akademis sehingga mengundang kritik dari Derrida, Edward Said, Jurgen Moltmann, Samuel Hungtinton, dsb. Hidup manusia begitu menegangkan karena mereka berjerih lelah berusaha untuk hidup dalam bidang masing-masing tapi kesimpulan hidup mereka adalah capek, lelah !

Tahun 2004, banyak tokoh-tokoh yang saya kagumi meninggal dunia, Christopher Reeve ( Superman ) idola saya diwaktu kecil, Jonathan Chao ( how to bring reformed theology to china ), Ronald reagan ( dalam politik dan agama ), Edward Said ( Usiran Palestina yang berjuang demi tanah airnya), Susan Sontaq ( penulis esai-esai provokatif yang transparan ). Mereka dikagumi karena mereka telah mengerjakan sesuatu dalam hidupnya tetapi hasilnya apa ? toh mereka berjerih lelah untuk mati ? Saya percaya manusia menerima tantangan hidup bukan karena tantangan itu mengasyikkan tetapi mereka berharap dunia akan menjadi lebih baik dan meninggalkan sesuatu yang berguna bagi generasi penerus. Saya kita beberapa tokoh yang saya kagumi bukan orang kristen, pertanyaannya kenapa orang non kristen dapat dikagumi oleh orang kristen ? dimana orang kristen yang dapat dikagumi oleh non kristen ?

Sejujurnya saya harus kembali kepada poros definisi pekerjaan itu sendiri, bagaimana kekristenan memandang pekerjaan ? Katolik mempercayai pekerjaan sebagai suatu ?kutukan ?karena manusia telah jatuh ke dalam dosa maka pekerjaan secara otomatis melelahkan badan. Sebagai orang Reformed, saya kembali kepada Kejadian 1:28 dan 2:15. Inilah basis iman kita bahwa pekerjaan adalah tugas mulia untuk memuliakan nama Tuhan maka orang kristen diberikan pemahaman teologi yang unik dalam bekerja yaitu theology of enjoyment ( ayat 11 ). Enjoyment hanya dinikmati oleh manusia !

He make all things beautiful in His Time ( ayat 11 ). Allah adalah Sang Pencipta dan kita adalah manusia ciptaanNya dan kita diberikan ?infinity ?buat apa ? searching for meaning ?tapi manusia khan limited ? makanya manusia mesti searching for meaning of life and death-nya. Seringkali kita sudah tidak pusing mau hidup atau mati, itu pemikiran orang bodoh ! apakah mendekati kematian baru mau cari arti hidup itu apa ? Saat tsunami melanda Aceh, Sri Lanka, Thailand, India ?82000 korban meninggal dunia. Apa yang terpikir dalam benak kita ? saat para geologi menuliskan mengapa semuanya terjadi, itu karena pergeseran lempengan bumi di bawah dasar laut sehingga terjadi goncangan gempa yang besar dan terpadu dengan gelombang laut yang bergoyang maka jika tokoh etika bertanya ?hey teolog, orang kristen, filsuf ?jawab apa arti semuanya ini ! ? Bagaimana kita ? silent ? jika silent maka kita dianggap mengulangi sejarah gereja yang silent saat Nazi membunuh dan menganiaya jutaan kaum Yahudi di Jerman ?kenapa gereja silent pada saat itu? Salah satunya karena mereka menganggap itu adalah urusan politik, bukan urusan gereja. Apakah itu jawaban kita pada mereka ?

Theodicy berasal dari Theos = Allah dan Dikos = Adil yang artinya Sang Pencipta yang mengendalikan dan memakai sarana terbaik-Nya untuk mencapai tujuan-Nya, apa yang dipandang Allah tepat untuk dipakai ! Secara pemikiran manusia, cara kerja Allah sulit dipahami, itulah yang pernah dialami oleh Ayub, penderitaan yang ia alami diluar pemahaman dirinya tetapi ia searching for meaning ?ia bertanya kepada Allah tetapi tiada jawaban, Saat Yesus disalibkan ?Ia bertanya kepada Bapa di surga ?Allahku, Mengapa Engkau meninggalkan Aku ? tiada jawaban bagi-Nya ! Ayub berserah penuh ke dalam tangan Allah yang berdaulat karena Ia percaya Ia membuat segala sesuatunya indah pada waktu-Nya. Berbicara mengenai keadilan Allah, manusia memang telah berdosa karena manusia melawan Allah. Murka Allah bagaikan badai angin dan Amarah Allah bagaikan api yang menghanguskan. Maka teman-temanku ?belajarlah sesuatu dari apa yang terjadi di sekelilingmu, saat tragedi tsunami, terorisme, globalisasi ?carilah arti hidup dan matimu sehingga kita temukan enjoyment dalam Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit, Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya bagimu. ( Yohanes 10:10 )

Solideo Gloria
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan

Beyond Hedonism

Sebenarnya apakah itu hedonisme ? Hedonisme berasal dari bahasa Yunani yaitu Hedone ( kesenangan atau kenikmatan ). Menurut definisi dari Prof, Lorens Bagus, Hedonisme adalah suatu pandangan bahwa kesenangan dan kenikmatan itu harus menjadi tujuan dan tindakan manusia. Sebenarnya ajaran ini berasal dari mana ? Di dalam perjalanan ilmu pengetahuan khususnya dunia filsafat, dimulai dari suatu misi untuk “ manusia yang mempunyai pikiran “ ( Thales, Sokrates, Plato, Aristotle ) tetapi tiba-tiba dunia filsafat mengalami perubahan pandangan menuju misi “ manusia yang memiliki perasaan “disebabkan Yunani zaman itu mengalami keruntuhan, negara kehilangan kemerdekaannya, agama dan kepercayaan rakyat sedang goncang. Sejak perubahan pandangan filsafat Yunani tersebut lahirlah “ Philosophy of Epikuros “.

Epikuros adalah seorang filsuf yang tidak memiliki beban untuk melakukan penyelidikan ilmiah, ia hanya memakai pengetahuannya untuk satu tujuan yaitu : membebaskan ketakutan manusia terhadap agama. Konteks Yunani saat itu, mereka memiliki rasa takut terhadap dewa-dewa Yunani sehingga menurut Epikurus, ketakutan terhadap agama inilah menjadi problem manusia menikmati kesenangan dan kenikmatan hidup. Disini Filsafat Epikurus merintis suatu jalan manusia bebas menikmati kesenangan hidup dan mempengaruhi cara hidup generasi sepanjang zaman hingga saat ini.

Apa itu kesenangan hidup ? Banyak orang memfokuskan diri dengan mendambakan hidup pribadi yang dihiasi :Cinta ( Love ), Materi ( Material ), Kedudukan ( Power ). Pertanyaannya adalah : Apakah kesenangan itu menjamin kehidupanmu pasti selamanya bahagia ? Saya berani menjamin, kesenangan hidup tersebut tidak mungkin dapat membuat engkau bahagia selamanya ! Mengapa ? Karena konsep kesenangan hidup yang kau adopsi itu hanyalah bersifat sementara ! What’s your meaning of life ? Love ? Material ? Power ? Jika seluruhnya itu menjadi fokus hidupmu, engkau mati ! kalau begitu apakah kita tidak boleh memperoleh cinta, materi dan kedudukan ? Disini kita dapat menemukan “ The Problem of Heart “. Masalah hati yang meliputi perasaan, pikiran, keinginan, nilai-nilai , kehendak dan keputusan ! Jika hatimu tetap hanya menghargai cinta, materi dan kedudukan maka engkau hanyalah budak cinta, materi dan power !

Sebagai orang kristen, kita percaya bahwa Kerajaan Allah, Firman, Kehadiran Allah, Kekudusan Allah adalah harta kita yang kekal. Jika harta kita adalah Allah sendiri maka hati kitapun akan tertarik akan perkara Kerajaan-Nya. Hidup kita pun terarah menuju sorga, tempat kediamanNya yang kekal.

Keep The Fire Burning
Daniel Santoso
Jakarta, Indonesia

Bilingual Life

Di dalam kehidupan orang kristen, tidak jarang kesusahan dan penderitaan melanda mereka sehingga respon mereka menjadi begitu beragam. Ada yang menyatakan kecewa kepada Tuhan, ada yang marah terhadap Tuhan , ada yang malah bersyukur kepada Tuhan dan minta Tuhan memberikan kekuatan kepada setiap pribadi mereka menjalani smeuanya ini. Ayub adalah teladan yang bagaimana dalam penderitaan ia tetap bersyukur atas apa yang terjadi. Sebenarnya problem Ayub yang paling membuat ia merasa menderita bukan hanya karena ia menderita secara fisik maupun kehilangan orang-orang yang dikasihinya tetapi pada saat ia tidak dimengerti oleh teman-temannya dengan tuduhan bahwa pasti ia melakukan dosa yang besar sehingga semua tragedi itu menimpa dirinya padahal jika kita melihat dalam Ayub 1, Allah menyatakan Ayub sebagai orang saleh.

Bagi Walter Brueggeman, nasihat dari teman-teman Ayub menyebabkan Ayub mengalami :
a. undermine his self confidence
b. shalter his self extreme
c. make him feel bad.

Pertama, Jika kita melihat Ayub, dirinya adalah seorang yang hidupnya saleh dan berintegritas ( istilah dari Brueggeman ; a man of virtue and integrity ) ?27:2-4, 27:5-6a. Kalau Ayub dalam hidupnya tidak mengalami integritas tersebut maka respon perkataan Ayub terhadap nasihat dari teman-teman Ayub hanya menunjukkan kearogansian dirinya. Tetapi nyatanya bahwa Ayub bukan orang yang demikian, justru Ayub adalah orang yang baik secara moral, teologis, tanggungjawab. Disini Bruggeman menyatakan bahwa Ayub seorang yang embodiment of integrity, wholeness dan completeness.

Kedua , Ayub walaupun ia mengalami tragedi-tragedi yang tidak mudah tetapi jika kita melihat respon dari Ayub sendiri pada saat ia mendengar nasihat dari teman-teman Ayub, kita akan kaget sekali karena meskipun menderita Ayub masih dapat memuji Tuhan dan tidak menyangkali iman kepercayaannya kepada Allah. Ayub berkata ?I will hold fast to my integrity until I die ? Disini Integrity menjadi screen against the awesome reality of God dan kita dapat belajar dari Ayub untuk ?learn to speak praise & yielding which let you cherish your virtue less tightly ? Disinilah peranan hidup yang penuh doxology.

Disini saya belajar dari Ayub bagaimana kita sebagai orang kristen memiliki Integrity of Life dan Doxology of Life. Ini poin yang penting sekali karena jelas sekali bahwa Ayub seorang saleh yang menderita tetapi penderitaannya tidak merusak kehidupan integritasnya malah ia lebih mengekspresikan semua ke dalam kehidupan penuh doxology. Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki hidup yang berintegritas dan doxology ? Kiranya Tuhan memberikan kepada kita suatu kesadaran bagaimana kita dapat memiliki hidup yang berkelimpahan berkat dan anugerah serta kekuatan untuk berjuang menikmati kehidupan yang Tuhan anugerahkan kepada setiap kita ! Amen.

Dalam Kasih Setia-Nya
Ev. Daniel Santoso
Taipei, Taiwan

The True Worship

“ God does not want empty religious offerings “. Adalah sangat menyakitkan mengkomparasi keadaan bangsa saat itu dengan kota Sodom dan Gomora di masa lampau yang secara total dihancurkan oleh Allah dengan api belerang karena kelaliman mereka ( Kejadian 18-19 ), karena Yerusalem merupakan tempat suci yang penuh dengan aktivitas religius. Dalam Yesaya 1:10-17 khususnya dalam ayat 16-17 Jelas sekali Allah memberikan panggilan bagi manusia untuk kembali kepada konsep worship sesuai standar yang ditentukan oleh Tuhan. Worship without passion hanyalah merupakan kejijikan bagi Allah. Worship with evil hanyalah merupakan kebencian bagi Allah. Worship with blood hanyalah merupakan ketidakpedulian Allah. Seringkali konsep ibadah kita yang berfokus kepada Allah yang Maha Kasih tetapi tidak memfokuskan kepada Allah yang Maha Adil. Terkadang kita suka memikirkan bahwa Tuhan khan Maha Kasih, meskipun worship kita asal-asalan toh Tuhan mengasihi kita bukan ? Wuah kalau begitu berarti kita terlalu gampang memanfaatkan Tuhan donk ? Berarti Tuhan kita gampang ditipu oleh kita sendiri donk ? Saudara, Allah memang Maha Kasih tetapi Allah-pun Maha Adil, tetapi seringkali worship kita banyak mencerminkan ketidakadilan ( injustice ) padahal Allah memegang “ The Absolute of Justice “.

Sejujurnya worship seringkali menjadi sekadar “ compensation “ dan “ propitiation “, mengambil hati Tuhan dan menjadi pelipur lara untuk mencapai suatu kepuasan. Worship kita terkadang dipahami hanya di wilayah “ sacred space “ padahal worship kitapun semestinya tercermin dalam wilayah “ secular space “ juga. Kedua space tersebut semestinya berfokus pada konsep hidup bagi Tuhan. Terkadang kita ibadah kelihatan suci di gereja tapi di tempat kerja jadinya kurang suci. Worship bukan untuk compensating, Menurut Nicholas Wolterstroff, Worship is Presenting one’s life ( sacred space and secular space ) to God. Disini Wolterstroff menekankan worship tidak bisa terlepas dari Justice karena itulah God's cause.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan

Karpedium

Allah menciptakan manusia dan memerintahkan manusia berbuat baik sesuai Firman Tuhan maka saat kita melakukan perbuatan baik semestinya kita tidak punya hak untuk membanggakan diri sendiri tapi karena memang seharusnyalah kita sebagai manusia melakukan hal tersebut dalam kehidupan ini. Kitab Pengkhotbah mengatakan bahwa kita hidup dalam kondisi yang disebut kesia-siaan - meaningless. life is meaningless ! tidak ada substansinya, tidak ada artinya dan monoton ! Segala sesuatu cepat berlalu, tiada artinya. Matahari terbit dan tenggelam, sungai mengalir begitu saja. Dalam dunia ini tidak ada sesuatu yang baru, semuanya serba berulang. Salah satu yang paling mengerikan yaitu ketiadaan arti hidup.

Setiap manusia sepanjang zaman bergumul mengenai hal ini yaitu arti hidup dan Alkitab mencatat bahwa manusia telah diberikan infinity dalam hati mereka untuk mencari arti hidup yang sejati. Kapan mereka baru lekas-lekas mencari arti hidup ? Biasanya saat manusia mendekati " death " mereka melakukan " searching for meaning of life ".

Hidup digambarkan sia-sia ... hidup dibawah matahari bagai menjaring angin, meskipun manusia memiliki materi maupun kenikmatan duniawi tapi bagi penulis, semuanya tetap sia-sia belaka karena suatu saat kematian akan mengalah mereka. Maka Pengkhotbah 7:4 mengajak kita untuk pergi ke rumah duka untuk mengintrospeksi sebenarnya apakah arti hidup manusia dalam dunia yang fana ini, bertanya kepada diri " Apa yang sudah aku kerjakan di dunia ini sebelum kematian datang ? ". Hidup dan mati adalah misteri tapi indah karena melaluinya kita dapat lebih dekat kepada Tuhan karena hidup dan mati adalah ditentukan oleh-Nya maka saat Tuhan berikan manusia kesempatan untuk sekarang hidup dan esok akan mati maka apa yang sudah aku kerjakan untuk Tuhan melalui hidupku ........ itulah kasih Tuhan bagi manusia. Nikmatilah kasih-Nya melalui berkat-berkat-Nya saat kita masih hidup dan hitunglah betapa Allah konsisten menyediakan segala yang kita perlu dalam dunia ini ..... Enjoy and Count His Blessing ! Itulah Karpedium !

Dalam Pemeliharaan-Nya
Ev. Daniel Santoso
Jakarta, Indonesia

Selamat Datang

Salam Sejahtera dalam Kasih Kristus, Senang sekali melihat saudara mengunjungi website sederhana ini yang menampung rangkuman pergumulan teologis saya dengan Tuhan. Saya percaya kehidupan manusia tidak lepas dari pergumulan akan tetapi bagaimana kita memandang pergumulan itu sendiri, terlalu banyak variasi maka saya belajar bagaimana saya memandang pergumulan sebagai suatu ' solitude ' saya di hadapan Tuhan karena saya hanyalah ciptaan Tuhan dan Tuhan adalah Sang Pencipta. Ia mengetahui segala yang kualami dalam semua pertanyaanku dan Ia sendiri membukakan segala yang kuragu menjadi suatu hal aku tidak bisa tidak menaati setiap pimpinan-Nya. Tidaklah mudah menjadi orang kristen yang baik maka disinilah kita semua berjuang untuk menaati pimpinan Tuhan agar kekristenan terus bersinar melalui kehidupan religius maupun budaya orang kristen di dalam dunia ini. Teruslah bersinar teman-temanku dan hanya Kristus satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup.

Salam perjuangan hidup bagi Kristus
Ev. Daniel Santoso
Beijing, China