Senin, 27 Juli 2009

Understand The Times 2

THE DANGEROUS OF EMERGING MOVEMENT

Bagaimana Postmodernisme telah mempengaruhi gereja di abad 21? Salah satunya yaitu EMERGING CHURCH.

Emerging Church adalah Gerakan kristen abad 20-21 yang mengajak gereja dan jemaat di abad ini menghidupi iman mereka di dalam masyarakat postmodern. Gerakan ini muncul akibat ketidakpuasan mereka terhadap organized church dan institutional chuch yang dianggapnya terlalu konservatif sehingga mereka melakukan dekonstruksi terhadap konsep ibadah kristen, konsep penginjilan dan natur komunitas kristen yang modern..

1. Gereja dipanggil untuk menjalankan “Kovenan” Allah-Manusia yang didasarkan atas kedaulatan Allah, Otoritas Allah dan kehendak Allah sebagai the absolute point of Truth. Disini Allah tidak membutuhkan persetujuan dari dua pihak karena adanya perbedaan kualitatif antara Allah dengan manusia. Dalam hal ini Kovenan harus dibedakan dengan Kontrak. Bagaimana dengan emerging church? Emerging Church tidak menjalankan Kovenan secara directly, justru mereka menekankan komunikasi manusia dengan Allah baik melalui conversation, opinion, discussion dengan culture of dialoque yaitu come one, tell us your own stories! Pengaruh freedom of speech/expression menghantar mereka untuk menikmati sebuah standar yang relatif dalam menikmati Tuhan. Sebenarnya, apa salahnya sih? Toh mereka bukannya merusak hubungan manusia dengan Allah? Toh mereka kelihatannya sangat kristen dengan doa-doa mereka, penginjilan mereka, ribuan jemaat dalam gereja, ribuan orang maju saat altar call menangisi dosa. Apanya yang salah? Sekali lagi, gereja dipanggil untuk menjalankan Kovenan Allah. Gereja bukan didesign oleh Allah untuk melakukan hal-hal yang dikerjakan oleh emerging church. Justru, gereja didesign untuk melakukan kehendak Tuhan, sesuai kedaulatan Allah, dalam Kovenan-Nya.


2. Emerging Church membawa masuk konsep “Postmodern Diversity” ke dalam gereja. Alasan mereka adalah dunia berubah secara radikal maka gereja harus berubah secara radikal juga. Itulah keep reforming, katanya. Bagaimana saudara membaca pemikiran ini? Emerging Church mengajak gereja harus berubah di saat dunia telah berubah dengan radikal, ini bukan ajaran Alkitab! Alkitab justru mengajarkan bagaimana gereja harus tampil beda, berbeda dengan dunia. Justru, Gereja adalah representative Allah dalam dunia ini, bukan budak dari dunia. Mereka banyak membicarakan mengenai bagaimana menjangkau jiwa sebanyak-banyaknya untuk Kristus tetapi mereka lupa bahwa the absolute truth justru menekankan iman adalah dasar dari perbuatan dan pengalaman (Ibrani 11:1, Efesus 2:8, Matius 21:21) maka pengajaran itu penting dan harus diutamakan oleh gereja. Disini Postmodernisme menawarkan “new perspectives” kepada emerging church untuk mempengaruhi gereja dan jemaat Tuhan agar mereka dapat menjadi gereja yang “down to earth” dan modern mengikuti perkembangan zaman. Pertanyaannya sekali lagi, gereja dipengaruhi oleh dunia atau dunia justru seharusnya dipengaruhi oleh gereja? Iman kristen yang sejati justru kembali kepada directly relating to God’s Word bahwa faith comes by hearing maka bagaimana setiap orang kristen membaca zamannya dengan SEE, FEEL, ACT. Dalam khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong, Ia mengambarkan saat Rasul Paulus masuk ke Efesus, ia melihat berhala-hala Efesus, ia menaruh belas kasihan kepada mereka yang belum dengar Injil dan ia beraksi dengan berkhotbah di depan mereka yang belum percaya Injil. Maksud saya mengutip hal ini, Dunia memerlukan Injil, bukan Injil perlu dunia. Inilah keterbalikan logika yang selalu dianggap boleh terbalik, boleh tidak terbalik. Itu bukan ajaran Alkitab! Justru kita harus belajar teologi baik-baik agar kita mengikut Tuhan dengan benar, bukan terbalik.

3. Emerging Church memberikan pelayanan yang terbaik bagi jemaat Tuhan. Pelayanan yang “seeker friendly” dengan memberikan pelayanan kepada jemaat sesuai dengan trend jaman, ini jelas market oriented. Kegiatan gereja tersebut lebih banyak menekankan ibadah yang penuh gairah mengaktifkan panca indera manusia untuk merasakan, menikmati, menyentuh hati daripada mendengar Firman Tuhan yang benar. Demi kenyamanan jemaat, gereja tersebut rela melakukan gaya marketing sekular hanya untuk menjangkau jiwa lebih banyak. Apakah kita punya hak untuk melakukan hal seperti itu? Sebagai seorang hamba Tuhan, saya percaya bahwa gereja harus memberitakan kebenaran dengan jujur yaitu memuliakan nama Tuhan dan menikmati Tuhan. Itulah semangat God centered. Emerging Church jelas bertolak belakang, mereka lebih menekankan “congregation-oriented” dan “market-oriented” yang dapat disimpulkan sebagai “man-centered”. Inilah semangat yang dikerjakan oleh Rick Warren, penulis best seller “The Purpose Driven Life” dari Saddleback Church. Pertama, Ia mengemas berita kekristenan sangat sekular sampai hampir tidak bisa dibedakan ini sebenarnya buku teologia atau sekadar buku pengembangan diri sehingga “cover” menjadi penting daripada “content”. Problemanya adalah kita sedang beli “cover” atau “content”? bukankah seringkali kita terjebak di dalam problema ini? Jika saudara melihat fenomena industri fake brands di China bener-benar luar biasa. Louis Vuitton dan Gucci sempat kuatir terhadap omset penjualan produk mereka dan melaporkan kepada kepolisian untuk melakukan sweeping terhadap pengedar fake brands. Herannya, industri mereka tidak pernah mati, malah berkembang sampai seantero jagat. Kenapa penjualan mereka begitu “hidup”? Cover mereka bagus, meskipun content poor quality. Kedua, Ia menggunakan bahasa seduktif yang sangat “down to earth” tetapi tidak akurat sesuai aslinya.Sebagai contoh, Rick Warren suka mengutip “The Message” dari Eugene Peterson. Warren mengutip Yohanes 3:17 dari Peterson: “God didn't go to all the trouble of sending his Son merely to point an accusing finger, telling the world how bad it was. He came to help, to put the world right again.” Jika kita melihat dari bahasa Yunani, kutipan bahasa Inggris yang paling akurat adalah NASB. "For God did not send the Son into the world to judge the world, but that the world might be saved through Him. “Saved” berbeda dengan “Help”. Kenapa Warren memilih terjemahan Eugene Peterson? Terjemahan Peterson lebih lunak, universal bagi kristen maupun non-kristen padahal terjadi “lack of meaning” dalam pengertian “saved-menyelamatkan” dengan “help-membantu, menolong”. Kebenaran Alkitab adalah menyelamatkan, bukan membantu atau menolong.

Kiranya Tuhan memberkati kita, berbalik untuk kembali kepada satu-satunya standar sejati yaitu di dalam Kristus.

by His grace
Daniel Santoso
Guangzhou, China

Understand The Times 1

THE NEED OF THE CHURCH DISCIPLINE

Panggilan Gereja Reformed Injili Indonesia bukan hanya untuk memberitakan Injil maupun mengajarkan doktrin Reformed Injili, tetapi menjalankan disiplin gereja baik dalam doktrin/pengajaran maupun dalam aplikasi hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Panggilan tersebut sangat signifikan karena banyak gereja maupun orang kristen telah memasukkan konsep kafir ke dalam doktrin/ pengajaran maupun aplikasi hidup jemaat Tuhan, baik sadar maupun tidak sadar. Dalam hal ini, panggilan Gereja Reformed Injili Indonesia adalah mengajak setiap gereja dan jemaat Tuhan mengadopsi prinsip kekristenan yang benar. Hari ini kita belajar mengenai beberapa poin yang kita dapat pelajari dalam prinsip kekristenan dalam disiplin gereja adalah:

a. Tidak ada jalan pintas dalam mengenal Allah dan Kebenaran-Nya, kita harus kembali setia kepada Alkitab sebagai satu-satunya standar Allah . Konsep kesetiaan harus bermula dari akarnya, bukan buahnya. Jika akarnya tidak setia maka buahnya pun hasil dari ketidaksetiaan. Seorang pemuda mengatakan kepada saya, bolehkan saya menginjili orang lain dengan akar teologi sukses dan mengharapkan mereka dapat menerima teologi penderitaan Kristus. Saya mengatakan, kebenaran itu tunggal, tidak ada double standard, maka mengenal Allah dan kebenaran-Nya harus kembali kepada akar yang sakral dan kebenaran yang sakral pula. .

b. Jemaat Tuhan harus mau rela mendengar dan taat kepada Allah. Hari ini banyak jemaat Tuhan melayani Tuhan tetapi semuanya itu belum menjamin ia pasti mau dengar dan taat kepada Allah. Keterlibatan jemaat dengan Allah menjadi poin penting karena keterlibatan itulah yang membuat setiap kita dapat menikmati apa yang kita dengar dan kita responi dengan taat menjalankan perintah Allah.

c. Keterlibatan Tuhan-jemaat-Nya mengarahkan kita untuk mengikuti jalur Tuhan, yaitu Firman Tuhan adalah Allah dan Kebenaran yang menjadi patokan dalam konsep nilai manusia dalam menilai segala sesuatu. Hari ini banyak gereja justru mengambil patokan bukan ikut jalur Tuhan tetapi mengikuti jalur kerelatifan dalam pengalaman manusia maupun nubuat. Dunia semakin memberanikan diri untuk membungkam mulut orang kristen agar tidak berani mengambil patokan yang jelas dalam mendidik gereja dan jemaat Tuhan untuk menjaga kekudusan dalam Firman dan pelayanan. Ironisnya, orang kristen sendiri tidak kritis terhadap dirinya sendiri sehingga banyak konsep-konsep kepalsuan religius yang sudah mencuci otak konsep mereka tentang apa itu kekristenan.

Hari ini, Era Postmodernisme telah merusak dunia termasuk kehidupan jemaat dan gereja Tuhan dengan semangat:

a. Relativisme. Tidak ada kebenaran absolut. Tidak ada kebenaran yang sejati. Semuanya adalah kebenaran. Meskipun berbeda-beda tetapi itu adalah kebenaran. Perbedaan itu hanyalah karena perbedaan perspektif/ cara pandang kita melihat saja. Siapakah yang berhak menentukan kebenaran adalah benar? Lyotard mengatakan biarkanlah komunitas yang menentukan kebenaran. Dalam hal ini Lyotard memberikan ruang lebar bagi manusia untuk bebas menentukan kebenaran itu benar atau tidak benar sesuai dengan perspektifnya masing-masing. Bukankah ini ide win-win solution yang tidak realistis dan konyol? Gereja mempermainkan dan dipermainkan oleh kebenaran. Jemaat juga mempermainkan dan dipermainkan oleh kebenaran dan semuanya itu benar?

b. menekankan freedom yang pluralis – multi form. Apakah saudara masih ingat kontroversi karikatur gambar Muhammad yang diterbitkan oleh surat kabar terkemuka di Denmark, Jyllands-Posten sehingga dunia islam marah besar bagai kebakaran jenggot. Menurut saudara, kenapa surat kabar tersebut berani menerbitkan karikatur gambar Muhammad padahal mereka tahu tindakan mereka begitu berbahaya bagi kaum extremis islam? Pesan mereka adalah self-censored dan freedom of speech/expression dari imajinasi mereka mengenai Muhammad. Meskipun mereka meminta maaf kepada dunia islam, mereka tidak sudi menarik karya karikatur kontroversial tersebut karena itulah kebebasan yang harus dihormati oleh siapapun, termasuk dunia islam. Jika mereka menggunakan freedom of speech/ expression dengan benar maka semua orang sehati menghormati freedom of speech mereka. Jika mereka menyalahgunakan freedom of speech/expression mereka hanya untuk “having fun”, secara tidak langsung, mereka telah mempermainkan freedom of speech mereka sendiri. Ada gereja yang memberikan “fenomenal religius” yang meresahkan masyarakat dengan penginjilan terhadap arwah orang mati, bagaimana kita menanggapinya? Tahukah kita bahwa itu tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan? Seringkali kita telah melihat kepalsuan religius ada disekeliling kita tapi mulut kita dibungkamkan oleh freedom of speech/ expression kafir. Ahmadiyah dianggap palsu oleh orang Islam, justru orang Islam mati-matian menyerang Ahmadiyah karena mereka telah murtad dari kebenaran islami. Jadi respon mana yang benar? Diam atau fight?

c. gol utama mareka adalah mencapai perdamaian dalam dunia ini, oleh karena itu mereka rela membuang sejarah sebagai akar, menekankan keunikan aestetic dalam freedom of speech/expression tanpa mempedulikan etika dalam sejarah manusia. Contoh, Oikumene adalah gerakan yang merangkul berbagai macam denominasi gereja-gereja agar saling hormat menghormati dan meniadakan perbincangan teologis yang mereka anggap error”. Bagaimana bisa damai jika kebenaran Tuhan diterima oleh gereja-gereja dengan berita yang berbeda-beda? Charles Spurgeon mengatakan justru perdamaian dan persatuan dapat terealisasikan dengan baik apabila semua oknum kembali kepada satu-satunya kebenaran. Oleh karena itu, dapatkah dunia mencapai perdamaian? Jika tidak kembali kepada Allah sebagai kebenaran absolut maka tidak mungkin ada perdamaian dalam dunia ini.

d. Sosial totalitas, rakyat jadi boss maka pemerintahan harus melayani rakyat. Menurut saya, panggilan gereja adalah bagaimana mendidik jemaat tuk kembali konsentrik terhadap Firman Allah. Sebagai contoh: Kalau dahulu pendidikan sekolah, murid harus takut kepada Kebenaran, Sekarang justru kebalikannya, guru takut murid karena guru dapat disue oleh orang tua murid karena melakukan tindakan penyiksaan terhadap anak mereka. Guru punya kuasa atau murid punya kuasa lebih besar? Inilah keterbalikan logika dalam sosial totalitas.

e. Banyak mereka lebih mendeklarasikan persamaan daripada perbedaan sehingga mereka melakukan “revisi ulang”/istilah dari Jacques Derrida “re-reading” disesuaikan dengan konteks lokal. Misalnya: Saya mendengar kabar dari seorang dosen Perjanjian Lama di seminari bahwa LAI pernah mengalami kesulitan dalam menerjemahkan Yesus Anak Domba Allah ke dalam bahasa Papua. Kenapa demikian? Problem lokal Papua adalah mereka belum pernah melihat binatang domba sehingga mereka berniat mengganti domba menjadi babi, karena banyak babi di Papua. Benarkah hal tersebut? Tidak. Jadi Jelas, ini bertentangan dengan isi Firman Tuhan. Menurut penulis, mereka justru harus dididik mengenai domba, bukan mengexcuse diri dan mengubah kata domba jadi babi. Itu tindakan terlalu pragmatis dan tidak bertanggungjawab. Justru kita harus jujur mengatakan definisi yang sesungguhnya yaitu mendidik gereja dan jemaat tuk setia di dalam Kebenaran Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran yang mutlak yang menjadi kunci kebenaran dan perdamaian yang sejati.

By His Grace
Daniel Santoso
Guangzhou, China

Kamis, 27 November 2008

Sola Scriptura & Ibadah

Beberapa tahun ini saya sedang menggumuli sebuah pertanyaan, apa arti sebuah ibadah dalam konteks gerejawi? apakah ibadah hanya sekadar digambarkan seperti memberi sebuah pujian kepada Tuhan, memberikan yang terbaik, yang harum, yang sejati di hadapan tahta Allah? Apakah benar saya telah memberikan yang terbaik, yang harum, yang sejati di hadapan Allah? Rasanya saya ingin meneteskan airmata pertanda sampai hari ini saya belum dapat memberikan yang paling terbaik, yang paling harum, yang paling sejati di hadapan Allah. selama ini saya hanya bisa memberikan apa yang ada pada saya, memberikan “rempah-rempah pelayanan” yang bukan kualitas surgawi, bukan juga memberikan pelayanan yang paling “sejati” seperti kesejatian Tuhan. Jika demikian, mengapa Tuhan masih mempercayakan saya untuk melayani Tuhan? beribadah di hadapan Tuhan?

Saya sangat diberkati Tuhan saat saya membaca artikel dari John Macarthur “The critical element of true worship” yang membahas Roma 11:1-2, Macarthur memberikan penjelasan bahwa seringkali ibadah hanya dicomment dengan eksistensi musik sehingga definisi worship cenderung “fragmented” dan sempit. secara logika, apakah musik memproduksi ibadah? atau ibadah yang sebenarnya memproduksi musik?

Seringkali logika kita telah salah menempatkan musik dan ibadah di dalam satu definisi yang sama. meskipun musik sangat berhubungan dengan ibadah, tetapi musik hanyalah bagian dari worship. sedangkan worship menjadi essensial di dalam totalitasnya. Apa yang bisa kita pelajari dari Roma 12:1-2?

Pertama, ibadah harus memiliki connecting dengan His mercies. Bagi Macarthur, inilah pure of worship (Roma 11:33-36). kita dapat beribadah kepada Tuhan, melayani Tuhan, memuji nama Tuhan karena belas kasihan Allah dinyatakan kepada kita. saya percaya poin pertama sangat berkesan di dalam kehidupan seorang reformator, Martin Luther. Semakin dia belajar teologi di seminari, melayani jemaat Tuhan di gereja dan masyarakat, Luther semakin menemukan dirinya yang lemah dan berdosa. Tebakan saya adalah tempat yang paling banyak ia singgahi di masa mudanya adalah confession room. Luther menyadari bahwa dirinya berdosa, ia menyadari dirinya dapat beribadah kepada Tuhan, melayani Tuhan karena ada belas kasihan Tuhan yang dinyatakan didalam hidupnya. Rasul Paulus hendak memperingatkan agar kita sebagai pembaca menyadari bahwa semua hanya karena belas kasihan Allah maka no room for pride! sadarilah limitasi diri dan bergantung pada belas kasihan Allah.

Kedua, ibadah memiliki mandatnya sendiri. ada aturan, cara dan ketentuannya sendiri yaitu harus biblical. saya percaya panggilan hidup setiap orang kristen adalah menjalani hidup seturut dengan cara Tuhan yang tercantum di dalam Alkitab, bukan pakai metode manusia yang spekulatif. sebagai contoh, pertama kali saya beli mp3 player dan saya sedang mencoba mendengar lagu dari mp3 player itu. hasilnya nihil. saya pikir mp3 player itu rusak. herannya, saat saya bawa kembali ke toko jual mp3 player tersebut. dia bilang tidak rusak. saya gak dapat mendengarkan mp3 karena saya pilih tombol “hold” sehingga “locked”. penjualnya mengatakan caranya ada tertulis di manual booknya! dari contoh ini, kita seringkali memakai cara sendiri untuk beribadah kepada Tuhan sehingga saat kita tidak enjoy dalam ibadah, justru kita menyalahkan Tuhan. Kita sudah memiliki manual book “Alkitab” dan kita perlu bantuan roh kudus untuk memahami aturan2 apa yang terkandung di dalam Alkitab.

Ketiga, ibadah adalah totalitas hidup manusia. heart understanding- serahkan semuanya kepada Tuhan dan mengasihi setiap belas kasihan Tuhan. Oswald Chamber memberikan new insight kepada saya sebagai pembaca di dalam artikelnya “Pertanyaan yang menusuk hati”. Chamber mengutip Yohanes 21:15-18 … Simon Petrus, Apakah engkau mengasihi Aku? sebuah pertanyaan yang menusuk hati Petrus. Petrus begitu mengasihi Yesus sampai matipun dia rela – kelihatannya hebat banget tetapi respon tersebut hanyalah sebuah respon alamiah seperti orang-orang (kasih emosional belaka). respon Petrus begitu menyentuh emosi dan menyentuh kedalaman diri secara lahiriah tetapi tidak menyentuh roh. Firman Tuhan selalu bikin kita gelisah, tersiksa, kesakitan karena Tuhan hendak mencabut “peluru dosa” yang ada di dalam tubuh kita dan membebaskan kita dari side effect “peluru dosa” tersebut. Bagaimana dengan Iblis? justru iblis tidak akan menyakiti kita … dia akan memberikan service yang kita sukai karena iblis tahu selera keberdosaan kita ... dia dapat mewujudkan semua yang kita minta karena semua sesuai selera Iblis juga. Tiga kali Yesus berkata “Apakah engkau mengasihi Aku?”. Petrus sadar bahwa Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu … kau tahu aku hanya bisa berespon secara alamiah. Tuhan berkata “ Peliharalah domba-dombaku”. Jawaban yesus sesuai dengan hukum paling utama di dalam Taurat yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia … itulah ibadah yang diperkenan Tuhan, sesuai dengan Alkitab (Matius 22: 33-40).


Keempat, ibadah memiliki mindset yang dibagi menjadi dua yaitu negatif dan positif. mindset bersifat negatif yaitu jangan sama dengan dunia ini (Roma 12:1). mindset bersifat positif yaitu being transformed (Roma 12:2). banyak kita berdebat mengenai musik sehingga kita tidak melihat mindset kita sudah betul atau belum, sudah berbeda dengan dunia atau sama dengan dunia ini. Jangan membuang waktu berdebat soal musik dulu tapi mindset kita sudah berbeda dengan dunia belum? sudah dibongkar oleh Firman atau belum? udah ditransformasi atau belum? Dalam hal ini, mindset kita harus total abundat dulu, total renovasion your mindset, bukan emosi. emosi harus dikendalikan dibawah mindset! jangan emosi merajai mindset! jika emosi jadi raja dari mindset maka positioning pasti bergeser alias kacau! justru kita harus kembali kepada mind of Christ (1 Korintus 2:16) yaitu learn from the Bible. oleh karena ibadah tidak bisa dilepaskan dari Sola Scriptura, back to Scripture alone.

Terima Kasih Tuhan ….atas pertolongan-Mu

Daniel Santoso
Beijing, China
http://www.danielsantoso.blogspot.com

Kamis, 20 November 2008

Sola Scriptura & Definisi Orang Benar

Apakah yang dibutuhkan manusia di dalam dunia ini? makan untuk hidup? atau hidup untuk makan? Di dalam Matius 4:4, Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius4:4). Hidup bukan butuh roti saja tetapi butuh firman Allah yang hidup dan menghidupkan itu. Hanya melalui Yesus, Firman Allah sejati yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah rela inkarnasi menjadi manusia demi menyelamatkan manusia yang berdosa melalui kematian di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga. Manusia harus hidup di dalam firman Allah, tetapi manusia harus sadar keberdosaan dirinya di hadapan Allah dan hanya Allah dapat memberikan arti hidup yang sesungguhnya. celakanya, banyak orang menganggap dirinya orang benar sehingga hidup di dalam kesombongan alias dosa.

Kenneth & Gloria Copeland dalam bukunya “From faith to faith” mengatakan bahwa tidak peduli betapa buruknya anda telah mengacaukan segala sesuatu kemarin atau betapa banyaknya kesalahan yang telah kami perbuat. Copeland memulainya dari “anda benar” secara sempurna sebagai “starting memory card” untuk bertunas seperti pohon kurma (Mazmur 92:13), mujur (Amsal 11:10), diselamatkan (Amsal 11:21), dilihat Tuhan (1 Petrus 3:12), diberkati (Mazmur 5:13), ditolong (Mazmur 34:18), tak pernah ditinggalkan (Mazmur 37:29), menerima warisan (Mazmur 146:8). kenapa Copeland memulai dengan “anda benar”? Bagi Copeland, Alkitab memberitahukan kita bahwa dibawah hukum imamat, seekor hewan harus dipersembahkan setiap tahun untuk “menebus” dosa umat manusia. kata “menebus” berarti menudungi dan itu digunakan terus menerus di seluruh Perjanjian Lama. Di dalam bahasa Yunani, bukan hanya berarti menudungi tetapi membatalkan, menghilangkan sama sekali! Copeland percaya bahwa tidak ada masalah lagi dengan dosa. Yesus telah menyelesaikannya. Secara pribadi, saya melihat bagaimana Copeland memberikan renungan yang “membangkitkan semangat” untuk membenarkan diri sebagai orang benar, karena anugerah penebusan-Nya yang mengubahkan orang percaya selama-lamanya menjadi kebenaran Tuhan yang sejati. Wow … Orang percaya berubah menjadi kebenaran Tuhan sejati? kebenaran Tuhan yang sejati adalah Kristus. Kristus adalah Tuhan 100%, Manusia 100%. orang percaya adalah manusia 100% … berubah menjadi kebenaran Tuhan sejati, apakah yang dimaksud adalah menjadi Tuhan 100%? Ini bidat! Justru dari pemikiran Copeland inilah, Benny Hinn mempercayai bahwa Tuhan adalah The Almighty God dan kita hanyalah anak-anak “The Almighty God” yang divine karena menerima benih keallahan dari karya penebusan Kristus. Itu sebabnya, Copeland menolak ide teologis bahwa manusia hanyalah seorang pendosa yang diselamatkan oleh anugerah. bagaimana opini saudara?

Alkitab mengajarkan kita bahwa manusia berdosa telah kehilangan kemuliaan Allah dan menyeleweng dari kebenaran yang sejati (Mazmur 14:2-3). tidak ada seorangpun yang baik, seorangpun tidak! Ketika Yesus berada di dunia, Ia berkata “ Akulah kebenaran” (Yohanes 14:6). Demi keselamatan dan kehidupan moral yang benar, Firman kebenaran, yang adalah Allah sendiri rela menjadi manusia (Yohanes 1:14). Setelah mati dan bangkit kembali; Yesus naik ke sorga. Kini, manusia diberikan Alkitab sebagai standar kebenaran. maka manusia harus kembali kepada Firman, barulah mereka dapat dikatakan sebagai orang benar. Jadi definisi jelas berbeda dengan Copeland. Copeland merampok konsep Allah ke dalam diri orang percaya sebagai orang benar sejati selama-lamanya, kelihatannya divine tapi justru itu man-centered. Justru Reformed mengajak kita untuk berbalik! Kembali kepada Firman Tuhan, biarlah Allah menjadi Allah, manusia menjadi manusia … yang taat kepada standar Firman-Nya di dalam dunia. Already in Christ but they are not yet perfect in this world (Anthony Hoekema). Waiting until His judgement Day. inilah definisi yang well-balanced dan sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Amen!

Check this out!
Biblical and Theological resources from the ministry of Dr. Sam Storms
http://www.enjoyinggodministries.com
On Kenneth Copeland (heresy)
http://www.ondoctrine.com/10copela.htm

In His love
Daniel Santoso
Beijing, China

Sola Scriptura & Gereja

Saya baru membaca sebuah artikel dari Fr. John Whiteford yang berjudul “Sola Scriptura: in the vanity of their minds” yang memberikan kritik terhadap “Sola Scriptura”, bahwa denominasi Protestan telah lari terlalu jauh dari tradisi gereja (katolik). Whiteford menganggap “Sola Scriptura” telah menyebabkan perpecahan gereja yang melahirkan beragam denominasi-denominasi yang kelihatannya sama-sama membaca Alkitab, tetapi berbeda di dalam aplikasi pribadi dan komunitas denominasi masing-masing. Whiteford mengatakan bahwa gereja semestinya melawan ajaran-ajaran bidat, tetapi justru gereja memproduksi denominasi-denominasi bidat. Konklusi dari whiteford adalah gereja kacau karena “Sola Scriptura”. bagaimana opini saudara mengenai hal ini?

“Sola Scriptura” dicetuskan oleh Martin Luther, bukan melawan Allah diatas gereja. Luther justru melawan gereja yang telah salah menafsirkan otoritas gereja atas kebenaran Allah. Luther mempercayai Firman Allah cukup memberikan “defense” melalui Diri-Nya sendiri. John Piper mengatakan bahwa Firman Allah bukanlah perkataan yang mati atau tidak efektif. Justru, didalamnya ada kehidupan dan perkataan itu membuahkan hasil. Apa yang dilakukan oleh Firman yang hidup dan efektif ini? menyingkapkan siapa diri kita sesungguhnya maka kita perlu bercermin di hadapa Firman-Nya dan pekerjaan Roh Kudus memimpin kita untuk mengenal kebenaran-Nya dengan “back to the bible”.

Bagi Gereja Roma Katolik, Sola Scriptura bukan solusi, tetapi justru problem karena Alkitab bukanlah self-interpreting sehingga hasilnya chaos. Bagi Gereja Roma Katolik, kita perlu mendasarkan prinsip teologis di dalam II Tesalonika 2:15 bahwa gereja memiliki otoritas atas Firman Tuhan yang diturunkan baik secara oral maupun tertulis oleh para rasul. Dalam hal ini, gereja mengangkat pentingnya magisterium dalam kebenaran. Itulah sebab gereja roma Katolik menganggap “Sola Scriptura” adalah bidat. bagaimana menurut saudara? Reformed tidak menolak gereja punya otoritas untuk mengajarkan Firman Tuhan, justru Reformed harus tekun menjalankan aktivitas rohani tersebut. Di dalam I Timotius 3:15 menyatakan gereja adalah pilar dan fondasi dari kebenaran. apa itu kebenaran? kebenaran adalah Yesus Kristus. bagaimana kita dapat mengenal Yesus Kristus? Alkitab. Gereja harus memberitakan kebenaran dan membawa jiwa-jiwa tersesat percaya kepada Yesus Kristus, satu-satunya juruselamat dunia. Tetapi gereja tidak mendapatkan wahyu maupun otoritas untuk memerintah ajaran Alkitab. Hanya Kristus, sebagai kepala gereja satu-satunya yang berhak memerintah dan “menafaskan” Kebenaran kepada gereja dan orang benar. problemnya, gereja terlalu berani mengotori kesucian prinsip Firman Tuhan dengan “human interpretation” sehingga posisi otoritas gereja menjadi “false”. James White memberikan contoh di dalam Matius 22, ketika Yesus berdebat dengan kaum Saduki (menolak konsep kebangkitan), Yesus berani memberikan kritikan pedas kepada mereka karena mereka tidak kembali kepada kebenaran yang “dinafaskan” Allah, melainkan meragukan Firman serta membuang keutuhan Firman ke dalam recycle bin sampai empty. Yesus berkata, "You are in error because you do not know the Scriptures, nor the power of God, for in the resurrection, they neither marry nor are given in marriage but are as the angels in Heaven. But concerning the resurrection of the dead have you not read what God spoke to you, saying 'I am the God of Abraham, the God of Isaac and the God of Jacob.'" James White memberikan explanation bahwa perspektif Yesus adalah perspektif yang “biblical” dan “senafas” dengan Firman Allah. Scripture is God speaking to man. It is theopneustos. God-breathed. inilah keunikan “Sola Scriptura”. Mazmur 119:89 "Your word, Oh, Lord, is eternal. It stands firm in the heavens."
Jadi, siapa yang sesungguhnya bikin kacau?

check this out!
http://www.christiananswers.net/indonesian/q-eden/sola-scriptura-earlychurch-i.html

In His Love
Daniel Santoso
Beijing, China
http://www.danielsantoso.blogspot.com

Kamis, 17 Januari 2008

Fire and Ministry

Nats : Imamat 9:23-24 / 10:1-3

Di dalam Imamat pasal 8, Allah memerintahkan Musa memanggil Harun dan keturunannya untuk menahbiskan mereka sebagai pelayan kemah suci tetapi pertanyaan yang muncul adalah apakah mereka yang ditahbiskan oleh Allah pasti kaum yang diselamatkan Tuhan ? Mengapa Tuhan murka terhadap anak Harun ? bukankah Allah telah menahbiskan mereka ? Apakah Tuhan salah menahbiskan mereka ?

1. Setiap pelayanan yang benar harus bersumber pada Firman Tuhan dan Perintah Tuhan. Memang Musa diperintahkan Allah untuk menahbiskan Harun dan keturunannya untuk menjadi pelayan kemah suci tetapi bukan berarti mereka layak melayani Tuhan tetapi justru kita dapat belajar melihat Allah sendiri yang memberikan perintah. Apakah perintah Tuhan bisa salah ? Allah tidak mungkin melakukan kesalahan tetapi Allah mengizinkan tragedi Nadab dan Abihu melalui perintah-Nya untuk apa ? membukakan mata kita bahwa sumber pelayanan hanya ada pada Allah satu-satunya. Apakah pelayan Tuhan di seluruh dunia mengamenkan dan mengerjakan hal ini ? Ironis, banyak pelayan-pelayan Tuhan melayani Tuhan bukan karena kesadaran bahwa sumber pelayanan dari Tuhan tetapi justru mengerjakan sebuah perjuangan “ self actualization “ agar mereka dapat “ go international “ melalui observasi, studi yang mendasari aplikasi mereka. Ini bukan ajaran Alkitab. Allah memberikan perintah untuk mereka melayani kemah suci dengan kesucian ! Disini kita harus mendisiplinkan diri untuk melihat apa itu perintah Tuhan ? perintah Tuhan itu absolute dan tiada seorangpun yang mampu mengantikan perintah-Nya karena mereka bukan Allah. Kita harus juga belajar melihat di dalam perintah Allah ada “ education “. Ada pendidikan yang membawa setiap pelayan-pelayan Tuhan untuk tidak liar melayaninya tetapi dibawa untuk mendisiplinkan diri untuk melayani. Oleh karena itu setiap pelayanan harus kaku di dalam prinsip Firman Tuhan karena tidak dapat dipermainkan oleh siapapun ! setelah saudara mendengar ini semestinyalah saudara merasa takut dan gentar karena pelayanan saudara adalah milik Tuhan, bukan hasil kekreatifan pemikiran manusia di dalam pelayanan. Dimana takut dan gentarmu hari ini ! berbaliklah pada Tuhan dan takutlah kepada Tuhan karena itulah awal dari pengetahuan termasuk pelayanan ! ada hak apa kita melayani Tuhan jika sumber bukan dari Tuhan?

2. Sebelum kita dapat melayani orang lain, kita harus terlebih dahulu dikuduskan dari dosa dan menyerahkan diri kita secara total kepada Tuhan. Disini setiap pelayan Tuhan harus belajar senantiasa memelihara keselamatan di dalam proses pengudusan ( sanctification ). Jadi, semakin seseorang dekat dengan Allah maka semakin ia harus menghormati kekudusan Tuhan di dalam kehidupan pribadinya dan pelayanannya, jika tidak ia mati ! Nadab dan Abihu adalah pelayan-pelayan Tuhan dari garis keturunan Harun. Harun adalah Imam dan mereka adalah anak-anak imam.Banyak orang mengatakan bahwa mereka adalah orang suci tetapi apakah segala sesuatunya berlaku secara otomatis bahwa karena Harun adalah imam maka anak-anaknya pasti beres imannya ? jawaban adalah tidak ! Jadi jangan kira saudara termasuk keluarga orang percaya maka saudara otomatis adalah orang percaya. Mimpi ! Justru dari kisah ini kita melihat bahwa Nadab dan Abihu mengambil perbaraan, membubuhkan api dan menaruh api dan ukupan di atas api. Mereka tidak berhak melakukan itu tetapi mereka “ kreatif “ melakukan pelayanan menurut ambisinya sendiri. Disini bentuk nyata bahwa meskipun mereka adalah anak imam tapi hidupnya tidak otomatis mencerminkan keimaman melainkan ada didikan bagi manusia untuk diproses becoming to be his servants. Pendidikan disini berbicara mengenai kerelaan diri untuk mengikuti apa yang Tuhan mau kita kerjakan di dalam pelayanan. Seringkali kita kurang dapat mengerti kenapa pemimpin rohani kita marah maupun keras kepada kita, akan tetapi kita harus belajar melihat Tuhan yang melalui diri mereka, kita diajak untuk belajar mencerna setiap didikan keras yang mereka ajarkan. Maka sanctification kita nikmati dari Tuhan sendiri, salah satunya melalui pemimpin rohani kita. Kejatuhan Nadab dan Abihu adalah mereka tidak setia kepada Tuhan dan pemimpin rohani mereka yaitu Harun. Akhirnya murka Allah nyata di atas mereka.

3. Murka Allah dinyatakan bagi mereka yang kreatif membangun pelayanan yang tidak God centered. Kenapa Nadab dan Abihu dimurkai Allah ? mereka dimurkai Allah karena mereka telah menaruh api asing ke mezbah persembahan – api yang tidak diperintahkan oleh Allah. Bukankah ini menjadi gambaran kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan yang seringkali melayani bukan dengan api dari Tuhan tetapi menaruh api asing ke dalam pelayanan kita sendiri sehingga pelayanan kita dimurkai oleh Tuhan. Dalam Imamat 9 :23-24 – Api Tuhan menghanguskan mezbah korban maka bangsa bersorak dan sujud menyembahnya. Dalam 10:1-3 – Api Tuhan menghanguskan anak harun dan semuanya terdiam. Melihat catatan sejarah ini, mari kita merefleksikan diri kita di hadapan Tuhan, bukankah kita seringkali melayani bukan dengan api dari Tuhan ? seringkali kita melayani Tuhan tetapi membawa api sendiri yang asing sehingga pelayanan kita justru mati dan hangus. Nadab dan Abihu adalah imam tetapi melayani tidak sesuai dengan perintah-Nya, mereka telah menodai kekudusan Tuhan. Sebagai pelayan Tuhan, seharusnyalah mereka menunjukkan hormat kepada Allah dan kekudusan-Nya. Adakah pelayan Tuhan yang hormat kepada Allah hari ini ? adakah pelayan Tuhan yang menjunjung kekudusan-Nya dalam pelayanan hari ini ?

Dalam Kasih-Nya

Ev. Daniel Santoso

Jakarta, Indonesia

Selasa, 20 November 2007

Love or Hatred ?

Dalam perjalanan kembali dari guangzhou – hongkong – taipei, saya dikagetkan dengan sebuah berita violence yang terjadi pada tanggal 7 November kemarin, Tragedi penembakan tujuh murid and satu guru oleh seorang anak berumur 18 tahun bernama Eric yang menganggap dirinya “ terrorist “. Kenapa Eric bisa melakukan hal ini ? Kebencian kepada teman2 dan guru menyebabkan dirinya mengambil keputusan sebagai “ school shouter “ dan akhirnya after bunuh mereka, Eric membunuh dirinya sendiri di kamar mandi. Jika saudara mengikuti perkembangan berita news akhir-akhir ini maka sebenarnya apa yang terjadi di Jokela High School hanyalah pengulangan tragedi virginia tech dimana choo seung hui melakukan penembakan terhadap tiga puluh orang karena alasan “ this is for my generations “.

Kebencian banyak telah mengambil tempat paling penting di dalam hidup manusia khususnya di dalam merusak relasi satu manusia dengan manusia yang lain. Sebenarnya apakah hidup manusia selalu menawarkan kebencian kepada manusia lainnya ? Jika kita lihat di dalam Alkitab, Matius 5:43-48 disitu justru Kasih menjadi poros paling penting di dalam kehidupan manusia yang sesungguhnya. Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu – inilah ajaran Yesus Kristus. Mungkin kita akan berkata “ lho kok aneh ? “. Frederich Nietzche memberikan penilaian bahwa ajaran Yesus itu ajaran pengecut karena musuh itu ada untuk dikalahkan bukan untuk dikasihi. Hanya orang “ sempel “ aja mengadopsi paradigma seperti itu. Nietzche mengatakan itu bahwa itulah hidup manusia, dipenuhi kebencian dan permusuhan , jadi teror-teror yang terjadi pada manusia itu adalah hal biasa saja. Tetapi justru Yesus membawa setiap kita untuk melihat kasih sebagai fokus hidup yang perlu kerelaan untuk “ radix “ dan “ kaku “ di dalam mengasihi musuh. Yesus justru mengajarkan setiap orang kristen untuk belajar mengampuni dari atas dasar kasih. Kedua, belajar melihat kebaikan orang lain ketimbang kejahatan orang lain terhadap kita. Meskipun terkesan “ injustice “ tetapi kita harus menilai segala sesuatu didalam cara pandang yang “ fair “ secara christianly baik di dalam theology maupun di dalam application. Ketiga, belajar bukan mengalahkan musuh sebagai goal tetapi justru musuh yang menjadi sahabat.Bagaimana saudara membaca hal ini ? mungkin saudara akan mengatakan bahwa kenapa Yesus kok mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang “ aneh “ ? Jika kita membalas kebencian dengan kebencian maka kita sedang “ menularkan “ kebencian kepada orang lain. Tanpa sadar, kita sudah mengembangbiakkan “ evil to others “. Ini side effect ! Kedua, natur dari kebencian itu sendiri bersifat menyiksa dan menghancurkan. Bukti nyata hadir di dalam tragedi virginia tech maupun jokela high school di south finland. Ketiga, kasih memiliki power lebih besar atas kebencian. Sebagai penutup, sebelum menjadi presiden USA, Abraham Lincoln pernah dibenci oleh seorang rekan bernama Stanton tapi Lincoln hanya diam. After Lincoln jadi presiden USA, Lincoln justru mengangkat Stanton ( rekan yang benci Lincoln ) sebagai menteri penerangan. Banyak orang kaget dengan pemilihan calon menteri penerangan dari Lincoln, kenapa lincoln melakukan hal ini ? bukankah cari orang yang tepat adalah orang yang sesuai dengan selera kita ? Lincoln mengatakan bahwa saya memang tidak menyukai Stanton, tetapi demi negara saya harus pilih dia karena dialah yang terbaik. Ini contoh orang yang memiliki hati lapang dada yang besar. Disinilah kasih bekerja dan menang. Akhirnya Stanton menyadari bahwa Lincoln adalah instrumen kasih Allah yang hadir bagi dirinya. Adakah mental “ Lincoln “ di zaman ini ?


Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC